Friday, May 13, 2011

MINYAK MORHABSHI AJAIB


Berikut adalah penyakit yang dikenalpasti sering disembuhkan menggunakan Minyak Morhabshi:

histeria
dirasuk syaitan
sihir (buatan orang)
santau
bayi 'diganggu'
bayi 'kembung'
sawan tangis
pusat bayi (agar mudah tanggal)
batuk
lelah/asma
sakit gigi
senak
cirit birit
kanser (lihat testimoni kami berkenaan pesakit barah hati)
kayap
kurap
gatal-gatal (termasuk celah jari kaki & pangkal paha)
jerawat batu (termasuk bisul kecil pada muka)
kudis
bisul
melecur terkena api atau air/minyak panas
gigitan serangga & binatang bisa
lenguh
terseliuh
simpul biawak (krem)
sakit kepala
mabuk-mabuk & meloya
muntah.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Cara penggunaan:

Untuk penyakit luaran, sila gunakan secara sapuan. Manakala untuk masalah 'dalaman' seperti santau, sila masukkan 2-3 titik ke dalam 1/3 air suam dan diminum.

Minyak Morhabshi tidak beracun. Oleh itu jika anda sakit gigi, anda boleh menyapunya terus pada gusi atau gigi yang berlubang dan sakit itu. Caranya, ambil secebis tisu, celupkan dalam Minyak Morhabshi dan tampalkan ke dalam gigi yang berlubang. Saya telah mencubanya 3 tahun lalu dan hingga sekarang tidak pernah mengalami sakit itu lagi.

Untuk bayi dan kanak-kanak, calitkan pada kening, ubun-ubun, belakang cuping telinga, sendi-sendi kaki dan tangan, serta tengkuk bagi menghindari daripada gangguan. Amalkan setiap hari (sebelum maghrib) pada bayi anda.

Amalkan menyapu pada perut bayi setiap hari dapat mengelakkan bayi diserang kembung perut. Insya-Allah.

Untuk makluman, sebaik tiba di sekolah pagi tadi, seorang ustazah menemui saya untuk mendapatkan Minyak Morhabshi lagi. Menurut beliau, bayinya terhindar dari kembung sejak menggunakan Minyak Morhabshi. Oleh itu beliau telah mengesyorkan pada adiknya yang juga baru bersalin.

Tambahan:

Untuk lelaki, cara guna rujuk link yang diberikan...

Demikianlah pengalaman yang dikongsikan oleh beberapa orang rakan yang telah mencubanya.

Alhamdulillah.

Untuk tempahan boleh hubungi 0134475900 atau klik link di bawah

http://www.morhabshi.com/?id=zura86

Harga: RM5.50 sebotol

Friday, February 11, 2011

Peringatan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Menurut Syari’at Islam

Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah menyempurnakan agama Islam untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan menjadikan Sunnah Rasul-Nya sebagai sebaik-baik petunjuk yang diikuti. Semoga shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para Shahabatnya.

Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama Islam bagi umatnya; menyempurnakan nikmat-Nya bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mewafatkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali setelah beliau selesai menyampaikan segala sesuatu yang disyari’atkan Allah Azza wa Jalla dengan jelas, baik berupa perkataan maupun perbuatan; juga setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setiap hal baru yang diada-adakan oleh manusia dan disandarkan kepada agama Islam, baik berupa i’tiqâd (keyakinan), perkataan maupun perbuatan semua itu adalah bid’ah dan tertolak, walaupun maksudnya baik.

Semua ini karena bid’ah merupakan penambahan terhadap ajaran agama dan mensyari’atkan sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta merupakan tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh Allah Azza wa Jalla dari golongan Yahudi dan Nasrani. Selain itu, melakukan bid’ah berarti pelecehan terhadap agama Islam dan menganggapnya tidak sempurna. Keyakinan ini mengandung kerusakan yang besar dan bertentangan dengan firman Allah Azza wa jalla dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan terhadap bid’ah.

Mengada-ada hal baru dalam agama, seperti peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala belum menyempurnakan agama-Nya bagi umat ini, atau beranggapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam belum menyampaikan segala sesuatu yang mesti dikerjakan umatnya. Tidak diragukan lagi, anggapan seperti ini mengandung bahaya besar lantaran menentang Allah k dan Rasul-Nya. Karena Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi paling mulia dan terakhir. Nabi yang paling sempurna penyampaian dan ketulusannya. Seandainya Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar-benar termasuk ajaran agama yang diridhai Allah Azza wa Jalla, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya kepada umatnya; Atau paling tidak, pasti telah dikerjakan oleh para Shahabatnya. Tetapi, semua itu tidak terjadi. Dengan demikian, jelaslah hal itu bukan bagian dari ajaran Islam dan termasuk perkara yang diada-adakan (bid’ah) dan termasuk tasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam hari-hari besar mereka.

Diantara hal aneh dan mengherankan ialah banyak orang yang giat dan bersemangat menghadiri acara-acara yang bid’ah, bahkan membelanya, sementara mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang Allah Azza wa Jalla syari’atkan seperti shalat wajib, shalat Jum’at, dan shalat berjama’ah bahkan sebagian mereka terbiasa dengan perbuatan maksiat dan dosa-dosa besar. Mereka sadar bahwa mereka telah melakukan kemungkaran yang besar. Ini semua dikarenakan oleh lemahnya iman, dangkalnya pemikiran, serta banyaknya noda yang mengotori hati.

Lebih aneh lagi, sebagian pendukung maulid mengklaim bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menghadiri acara tersebut. Karena itu, mereka berdiri untuk menghormati dan menyambutnya. Ini merupakan kebatilan yang paling besar dan kebodohan yang amat buruk. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari Kiamat, tidak berkomunikasi dengan seorang manusia pun, dan tidak menghadiri pertemuan-pertemuan umatnya sama sekali.

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah dengan menyelenggarakan acara-acara perayaan maulid semacam itu, akan tetapi dengan mentaati perintahnya, membenarkan semua yang dikabarkannya, menjauhi segala yang dilarang dan diperingatkannya, dan tidak beribadah kepada Allah Azza wa Jalla kecuali dengan yang beliau syari’atkan.

A. ORANG YANG PERTAMA KALI MENGADAKAN MAULID NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah yang mungkar. Kelompok yang pertama kali mengadakannya adalah Bani ‘Ubaid al-Qaddah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah pada abad ke- 4 Hijriyah. Mereka menisbatkan diri kepada putra ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Padahal mereka adalah pencetus aliran kebatinan. Nenek moyang mereka adalah Ibnu Dishan yang dikenal dengan al-Qaddah, salah seorang pendiri aliran Bathiniyah di Irak.[1]

Para ulama ummat, para pemimpin, dan para pembesarnya bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang munafik zindiq, yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Bila ada orang yang bersaksi bahwa mereka orang-orang beriman, berarti dia bersaksi atas sesuatu yang tidak diketahuinya, karena tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keimanan mereka, sebaliknya banyak hal yang menunjukkan atas kemunafikan dan kezindikan mereka.[2]

B. BEBERAPA ALASAN DILARANGNYA MEMPERINGATI MAULID NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Para ulama dahulu dan sekarang telah menjelaskan kebathilan bid’ah memperingati Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membantah para pendukungnya. Memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah bid’ah dan haram berdasarkan alasan-alasan berikut:

Pertama: Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah yang dibuat-buat dalam agama ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan keterangan sedikit pun dan ilmu tentang itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkannya baik melalui lisan, perbuatan maupun ketetapan beliau. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” [al-Hasyr/59:7]

Juga berfirman yang maknanya :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah k dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah Azza wa Jalla.” [al-Ahzâb/33: 21]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِـيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa yang mengadakan suatu yang baru yang tidak ada dalam urusan agama kami, maka amalan itu tertolak”.

Dalam riwayat Imam Muslim, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak”.

Kedua: Khulafa-ur Rasyidîn dan para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya tidak pernah mengadakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah mengajak untuk melakukannya. Padahal mereka adalah sebaik-baik umat ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْـخُلَـفَاءِ الْـمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ ، تَـمَسَّكُوْا بِـهَـا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. ”
…Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafâ-ur Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.” [3]

Peringatan maulid tidak pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya. Seandainya perbuatan itu baik niscaya mereka telah lebih dahulu melakukannya.

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang tidak ada dasarnya dari Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah. Karena bila hal itu baik, niscaya mereka akan lebih dahulu melakukannya daripada kita. Sebab mereka tidak pernah mengabaikan satu kebaikan pun kecuali mereka telah lebih dahulu melaksanakannya.”[4]

Ketiga: Peringatan hari kelahiran (ulang tahun/maulid) adalah kebiasaan orang-orang sesat dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Karena yang pertama kali menciptakan kebiasaan tersebut adalah para penguasa generasi Fathimiyah Ubaidiyah, sebagaimana keterangan diatas. Mereka sebenarnya berasal dari kalangan Yahudi, bahkan ada pendapat mereka berasal dari kalangan Majusi. Bisa jadi, mereka adalah orang-orang Atheis.[5]

Orang yang pertama menciptakannya adalah al-Mu’iz Lidînillah al-‘Ubaidi al-Maghribi yang keluar dari Maroko menuju Mesir pada bulan Ramadhan tahun 362 H.[6]
Apakah layak bagi orang Muslim berakal untuk mengikuti Rafidhah dan mengikuti kebiasaan mereka serta menyelisihi petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Keempat: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” [al-Mâ-idah/5:3]

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat AllahSubhanahu wa Ta’alal terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah Azza wa Jalla menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَتَـمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلاًً “Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al-Qur-an), (sebagai kalimat) yang benar dan adil …” [al-An’âm/6:115]

Maksudnya, benar dalam kabar yang disampaikan dan adil dalam seluruh perintah dan larangan. Setelah agama disempurnakan bagi mereka, maka sempurnalah nikmat yang diberikan kepada mereka.

Maka ridhailah Islam untuk diri kalian, karena ia agama yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karenanya Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling utama dan menurunkan Kitab yang paling mulia (Al-Qur`an).

Mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (al-Mâ-idah/5:3), ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu ‘anhuma,

“Maksudnya adalah Islam. Allah Azza wa Jalla telah mengabarkan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Mukminin bahwa Dia telah menyempurnakan keimanan untuk mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan penambahan sama sekali. Dan Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan Islam sehingga Allah Azza wa Jalla tidak akan pernah menguranginya, bahkan telah meridhainya sehingga Allah Azza wa Jalla tidak akan memurkainya selamanya.”[7]

Orang yang melaksanakan Sunnah-Sunnah dan meninggalkan bid’ah-bid’ah -termasuk bid’ah Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka mereka menjadi asing di masyarakat, pendukung perayaan ini. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dengan sangat jelas. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan satu jalan pun yang dapat menghantarkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah beliau jelaskan kepada umatnya.

Kalau peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu termasuk ajaran agama yang diridhai Allah Azza wa Jalla, tentu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya atau melakukannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَـهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَـهُمْ “Tidaklah Allah Azza wa Jalla mengutus seorang Nabi, kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang diketahuinya kepada ummatnya dan memperingatkan mereka terhadap keburukan yang diketahuinya kepada mereka.” [8]

Kelima: Dengan mengadakan bid’ah-bid’ah semacam itu, timbul kesan bahwa Allah Azza wa Jalla belum menyempurnakan agama ini, sehingga perlu dibuat ibadah lain untuk menyempurnakannya. Juga menimbulkan kesan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam belum tuntas menyampaikan agama ini kepada umatnya sehingga kalangan ahli bid’ah merasa perlu menciptakan hal baru dalam agama ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi hamba-hamba-Nya.

Keenam: Dalam Islam tidak ada bid’ah hasanah, semua bid’ah adalah sesat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ “Setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” [9]

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata.

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ “Barangsiapa menganggap baik sesuatu (ibadah) maka ia telah membuat satu syari’at” [10]

Diantara kaidah ahli ilmu yang telah ma’ruf ialah bahwa “Perbuatan baik ialah yang dipandang baik oleh syari’at dan perbuatan buruk ialah apa yang dipandang buruk oleh syari’at.”[11]

Syaikh Hâfizh bin Ahmad bin ‘Ali al-Hakami rahimahullah (wafat th. 1377 H) berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa semua bid’ah itu tertolak tidak ada sedikitpun yang diterima; Semuanya jelek tidak ada kebaikan padanya; semuanya sesat tidak ada petunjuk sedikitpun di dalamnya; Semuanya adalah dosa tidak berpahala; Semuanya batil tidak ada kebenaran di dalamnya. Dan makna bid’ah ialah syari’at yang tidak diizinkan Allah Azza wa Jalla dan tidak termasuk urusan (agama) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.”[12]

Para ulama Islam dan para peneliti kaum Muslimin secara terus-menerus mengingkari budaya perayaan maulid tersebut dan mengingkarinya demi mengamalkan nash-nash dari Kitabullah dan Sunnah Rasul yang memang memperingatkan bahaya bid’ah dalam Islam, memerintahkan agar mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta memperingatkan juga agar tidak menyelisihi beliau dalam ucapan, perbuatan, dan amalan.

Ketujuh: Memperingati kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membuktikan kecintaan terhadap Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kecintaan itu hanya dapat dibuktikan dengan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan Sunnah beliau, dan mentaati beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah Azza wa Jalla, maka ikutilah aku, niscaya Allah Azza wa Jalla mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Azza wa jalla Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Ali Imrân:31]

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini sebagai pemutus hukum atas setiap orang yang mengaku mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi tidak berada di atas jalan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia dusta dalam pengakuannya mencintai Allah Azza wa Jalla sampai ia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap perkataan, perbuatan, dan keadaannya. Disebutkan dalam kitab ash-Shahîh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas dasar urusan kami, amalan tersebut tertolak.”[13]

Oleh karena itu, maksud firman Allah Azza wa Jalla yang maksudnya :

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah Azza wa Jalla, maka ikutilah aku. Niscaya Allah Azza wa Jalla mengasihimu”

Adalah kalian akan mendapatkan sesuatu yang melebihi kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kalian. Ini lebih besar daripada kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang dikatakan ulama ahli hikmah, “Yang jadi ukuran bukanlah jika engkau mencintai, tetapi yang jadi ukuran adalah jika engkau dicintai.” al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, lalu Allah Azza wa Jalla menguji mereka melalui ayat ini …”

Kemudian firman Allah Azza wa Jalla yang maknanya,

“Dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Azza wa Jalla Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Maksudnya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalian akan memperoleh pengampunan, berkat keberkahan utusan-Nya.”

Kedelapan: Memperingati Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai perayaan berarti menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani dalam hari raya mereka, padahal kita telah dilarang untuk menyerupai mereka dan mengikuti gaya hidup mereka. [15]

Kesembilan: Orang yang berakal tidak mudah terperdaya dengan banyaknya orang yang memperingati maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tolok ukur kebenaran itu bukan jumlah orang yang mengamalkannya, namun berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman Salafush Shâlih.

Kesepuluh: Berdasarkan kaidah syariat yaitu mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

” … Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah k dan hari Kemudian” [an-Nisâ'/ 4:59]

Demikian juga dengan firman-Nya yang bermakna:

Tentang sesuatu apa pun yang kamu berselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah Azza wa Jalla.” [asy-Syûra/42: 10]

Orang yang mengembalikan persoalan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dia akan mendapati bahwa Allah Azza wa Jalla memerintahkan manusia agar mengikuti Nabi-Nya. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan ataupun memperingati kelahiran beliau dan beliau sendiri, juga para sahabat beliau. Dengan demikian dapat diketahui bahwa peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah berasal dari Islam, tetapi merupakan perbuatan bid’ah.

Kesebelas: Yang disyariatkan bagi seorang Muslim pada hari Senin adalah berpuasa, bila ia mau. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari Senin, beliau bersabda,

“Itu adalah hari kelahirkanku, hari aku diutus sebagai nabi, serta hari aku diberikan wahyu.” [16]

Yang disyariatkan adalah meneladani beliau, yaitu berpuasa pada hari Senin, bukan merayakan hari kelahiran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua belas: Perayaan hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan/melampaui batas) terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang berbuat ghuluw.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ. “Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw dalam agama ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” [17]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka disanjung melebihi dari ssanjungan yang Allah berikan dan ridhai. Tetapi banyak orang melanggar larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, sampai-sampai ada yang berdo’a dan meminta pertolongan kepadanya, bersumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah. Sebagian dari perbuatan-perbuatan ini dilakukan ketika peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (tuan/penguasa) kami!” Spontan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى. “Sayyid (tuan/penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”

Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ. “Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan” [18]

Kebanyakan qashidah dan puji-pujian yang dinyanyikan oleh yang melaksanakan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak lepas sikap berlebih-lebihan dan kultus individu terhadap Rasulullah bahkan terkadang mengandung ucapan-ucapan syirik. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تُطْرُوْنِـيْ كَمَـا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ ، فَإِنَّمَـا أَنَا عَبْدُهُ ، فَقُوْلُوْا : عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian mengkultuskan diriku sebagaimana orang-orang Nashrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya” [19]

Maksudnya, janganlah kalian memujiku dengan cara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa Alaihissalam. Sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku. Katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.”[20]

Ketiga belas: Berbagai perbuatan syirik, bid’ah, dan haram yang terjadi dalam peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering terjadi hal-hal yang diharamkan, seperti kesyirikan, bid’ah, bercampur baurnya kaum laki-laki dan wanita, menggunakan nyanyian dan alat musik, rokok, dan lainnya. Bahkan sering terjadi perbuatan syirik Akbar (besar), seperti istigâtsah kepada Rasulullah n atau para wali, penghinaan terhadap Kitabullah, di antaranya dengan merokok pada saat majelis Al-Qur’an, sehingga terjadilah kemubadziran dan membuang-buang harta.

Sering juga diadakan dzikir-dzikir yang menyimpang di masjid-masjid pada acara Maulid Nabi tersebut dengan suara keras diiringi tepuk tangan yang tak kalah kerasnya dari pemimpin dzikirnya. Semuanya itu adalah perbuatan yang tidak disyariatkan berdasarkan kesepakatan para ulama yang berpegang teguh kepada kebenaran.[21]

Keempat belas: Dalam peringatan maulid terdapat keyakinan batil bahwa ruh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri acara-cara maulid yang mereka adakan.

Dengan alasan itu mereka berdiri dengan mengucapkan selamat dan menyambut kedatangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu jelas perbuatan paling bathil dan paling buruk sekali. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan keluar dari kubur beliau sebelum hari kiamat dan tidak akan berhubungan dengan seseorang (dalam keadaan sadar), tidak pula hadir dalam pertemuan-pertemuan mereka. Beliau akan tetap berada dalam kubur beliau hingga hari Kiamat. Ruh beliau berada di ‘Illiyyin yang tertinggi di sisi Rabb beliau dalam Dârul Karâmah.[22]

Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula).” (Qs az-Zumar/39:30).

Dan dalam ayat yang lain, Allah k berfirman yang maknanya,

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat.” [al-Mukminûn/23: 15-16].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ “Aku adalah penghulu manusia di hari Kiamat nanti dan orang yang pertama kali keluar dari alam kubur, serta orang yang pertama kali memberi syafa’at dan yang menyampaikan syafa’at”[23]

Ayat dan hadits di atas serta berbagai ayat dan hadits senada lainnya menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang sudah mati lainnya akan keluar dari kubur mereka pada hari Kiamat nanti.

Al-Allâmah Abdul Aziz bin Abdullâh bin Bâz rahimahullah menyatakan, “Ini adalah pendapat yang sudah disepakati oleh para ulama kaum Muslimin, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka.” [24]

Sebagai tambahan, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau dihormati dengan berdiri. Lalu bagaimana bisa mereka menghormati beliau n dengan cara berdiri setelah beliau wafat.

C. HAKIKAT MENCINTAI RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang menampakkan tanda-tanda tertentu pada dirinya. Diantaranya adalah:

1). Mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mentauhidkan Allah Azza wa Jalla, menjauhi syirik, mengerjakan Sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beradab dengan adabnya.

2). Lebih mendahulukan perintah dan syari’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada hawa nafsu dan keinginan dirinya.

3). Banyak bershalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan Sunnahnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi k dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” [al-Ahzâb/33:56]

4). Mencintai orang yang dicintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik keluarga maupun Shahabatnya yang Muhajirin dan Anshar serta memusuhi orang-orang yang memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membenci orang yang membencinya.

5). Mencintai al-Qur’ân yang diturunkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai Sunnahnya, dan mengetahui batas-batasnya.[25]

D. FATWA PARA ULAMA TENTANG BID’AHNYA PERAYAAN MAULID NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Berikut ini adalah beberapa fatwa para ulama yang menyatakan bahwa peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah dhalâlah.

1. al-‘Allâmah asy-Syaikh Tâjuddin al-Fakihani rahimahullah (wafat th. 734 H) berkata :

“Saya tidak mengetahui dasar dari peringatan Maulid ini, baik dari al-Qur-an, Sunnah, dan tidak pernah dinukil pengamalan salah seorang ulama umat yang diikuti dalam agama dan berpegang teguh dengan atsar-atsar generasi yang telah lalu. Bahkan perayaan (maulid) tersebut adalah bid’ah yang diada-adakan oleh para pengekor hawa nafsu…”[26]

2. Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Menjadikan suatu hari raya selain dari hari raya yang disyari’atkan, seperti sebagian malam di bulan Rabi’ul Awwal yang disebut dengan malam Maulid, atau sebagian malam di bulan Rajab, atau hari ke-18 di bulan Dzul Hijjah, atau hari Jum’at pertama di bulan Rajab, atau hari ke-8 bulan Syawwal yang dinamakan ‘îdul abrâr oleh orang-orang bodoh, maka semua itu termasuk bid’ah yang tidak pernah dianjurkan dan tidak pernah dilakukan oleh para ulama Salaf. Wallâhu a’lam.”[27]

3. al-‘Allâmah Ibnul Hajj rahimahullah (wafat th. 737) menjelaskan tentang peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“…Hal itu adalah tambahan dalam agama, bukan perbuatan generasi Salaf. Mengikuti Salaf, lebih utama bahkan lebih wajib daripada menambahkan berbagai niat (tujuan) yang menyelisihi apa yang pernah dilakukan Salafush Shalih. Sebab, Salafush Shalih adalah manusia yang paling mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan (paling) mengagungkan beliau dan Sunnahnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lebih dahulu bersegera kepada hal itu, namun tidak pernah dinukil dari salah seorang dari mereka bahwa mereka melakukan maulid. Dan kita adalah pengikut mereka, maka telah mencukupi kita apa saja yang telah mencukupi mereka.”[28]

4. Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullâh berkata:

“Tidak diperbolehkan melaksanakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peringatan hari kelahiran selain beliau karena hal itu merupakan bid’ah dalam agama. Sebab, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, tidak juga para Khulâfâ-ur Râsyidîn, dan tidak pula para Shahabat lainnya, dan tidak juga dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada generasi-generasi yang diutamakan. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui Sunnah, paling mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan paling mengikuti syari’at dibandingkan orang-orang setelah mereka…”[29]

5. Syaikh Hamûd bin ‘Abdillah at-Tuwaijiri rahimahullah berkata:

“…Dan hendaklah juga diketahui bahwa memperingati malam Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai peringatan tidak termasuk petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi ia adalah perbuatan yang diada-adakan yang dibuat setelah zaman beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah berlalu sekitar enam ratus tahun. Oleh karena itu, memperingati perayaan yang diada-adakan ini masuk dalam larangan keras yang Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya,[30]

“…Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” [an-Nûr/24:63]

Jika dalam acara maulid yang diada-adakan ini ada sedikit saja kebaikan maka para Shahabat telah bergegas melakukannya…”

6. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Pertama: bahwa malam kelahiran Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, bahkan sebagian ahli sejarah menetapkan bahwa malam kelahiran Rasul adalah malam ke-9 Rabi’ul Awwal, bukan malam ke-12. Dengan demikian, menjadikannya malam dua belas bulan Rabi’ul Awwal tidak memiliki dasar dari sudut pandang sejarah.

Kedua: dari sudut pandang syari’at maka peringatan ini tidak memiliki dasar. Karena jika ia termasuk syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya atau menyampaikannya kepada umatnya. Seandainya beliau telah melakukannya atau telah menyampaikannya maka hal itu pasti terjaga karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” [al-Hijr/15:9]

Karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi dari hal itu maka dapat diketahuilah bahwa Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk agama Allah. Jika tidak termasuk agama Allah maka kita tidak boleh beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meletakkan jalan tertentu agar dapat sampai kepada-Nya yaitu apa yang dibawa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimana bisa kita selaku hamba Allah diperbolehkan untuk membuat jalan sendiri yang mengantarkan kepada Allah ? Ini merupakan kejahatan terhadap hak Allah Azza wa Jalla, yaitu mensyari’atkan dalam agama Allah sesuatu yang bukan bagian darinya. Juga hal ini mengandung pendustaan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya :

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu…” [al-Mâidah/5: 3]” [31]

7. Syaikh Shâlih bin Fauzân bin ‘Abdullâh al-Fauzan hafizhahullâh berkata:
“Melaksanakan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah. Tidak pernah dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dari para Khulafâ-ur Râsyidîn, dan tidak juga dari generasi yang diutamakan bahwa mereka melaksanakan peringatan ini. Padahal mereka adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat melakukan kebaikan. Mereka tidak melakukan suatu bentuk ketaatan pun kecuali yang disyari’atkan Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang maknanya :

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” [al-Hasyr/59:7]

Maka ketika mereka tidak melakukan peringatan maulid ini, dapat diketahuilah bahwa perbuatan itu adalah bid’ah…

Kesimpulannya bahwa menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perbuatan bid’ah yang diharamkan yang tidak memiliki dalil baik dari Kitabullâh maupun dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam…”[32]

Demikian uraian yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat. Semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad n, juga kepada keluarganya, para Shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Akhir. Dan akhir seruan kami ialah segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Marâji’ :

1. Tafsîr Ibni Katsîr, cet. Dâr Thayyibah.
2. Majmû Fatâwâ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
3. Iqtidhâ ash-Shirâtil Mustaqîm.
4. al-Madkhal, Imam Ibnul Hajj.
5. Siyar A’lâmin Nubalâ.
6. al-Bâ’its ‘ala Inkâril Bida’ wal Hawâdits.
7. Ma’ârijul Qabûl, Syaikh Hafizh al-Hakami.
8. al-Bida’ fii Madhâril ‘Ibtida’, Syaikh ‘Ali Mahfuzh.
9. Rasâ-il fii Hukmil Ihtifâl bil Maulidin Nabawi.
10. Nûrus Sunnah wa Zhulumaatul Bid’ah, Syaikh Sa’id al-Qahthani.
11. Tanbîhu Ulil Abshâr, Syaikh Shâlih as-Suhaimi.
12. ‘Ilmu Ushûl Bida’, Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi.
13. al-Bida’ al-Hauliyyah.
14. Majmû Fatâwâ Syaikh ‘Utsaimin.
15. al-Muntaqa min Fatâwâ Syaikh Shâlih Fauzân.
16. Fatâwa al-Lajnah ad-Dâ-imah.
Dan kitab-kitab lainnya.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M].
_________
Footnotes
[1]. Lihat al-Bida’ al-Hauliyah (hlm. 137).
[2]. Fadhâ-ih al-Bâthiniyyah (hlm. 37) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahj . Lihat al-Bida’ al-Hauliyah (hlm. 143).
[3]. Shahîh: HR. Ahmad (IV/126-127), Abû Dâwud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Dârimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205), al-Hâkim (I/95), dishahîhkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Irwâ-ul Ghalîl (no. 2455) dari Shahabat al-‘Irbâdh bin Sariyah z .
[4]. Tafsîr Ibni Katsîr (VII/278-279) cet. Dâr Thayyibah
[5]. Lihat Siyar A’lâmin Nubalâ (XV/213)
[6]. Lihat al-Bidâyah wan Nihâyah oleh Ibnu Katsîr (XI/272-273, 345, XII/267-268, VI/232, XII/ 63, XI/161, XII/13, XII/266). Lihat juga Siyar A’lâmin Nubalâ oleh adz-Dzahabi (XV/159-215). Dikisahkan bahwa Raja al-Ubaidiyah yang terakhir adalah al-Adidh Lidînillah. Ia dibunuh oleh Shalâhuddin al-Ayyûbi th. 564 H. adz-Dzahabi menyatakan : “Kekuasaan al-Adidh mulai luntur bersamaan dengan masuknya Shalâhuddin al-Ayyûbi sampai akhirnya beliau melepas kekuasaan itu dari al-Adidh. Beliau t bekerja sama dengan Bani Abbâs, menghancurkan Bani Ubaid dan melenyapkan keyakinan Syî’ah Râfidhah. Jumlah mereka adalah empat belas raja yang mengaku sebagai khalîfah, padahal bukan khalifah. al-Adidh secara bahasa artinya adalah sang pemotong. Karena dia yang memotong kekuasaan keluarganya.” (XV/212).
[7]. Tafsîr Ibni Katsîr (III/26-27) dengan diringkas.
[8]. Shahîh: HR. Muslim (no. 1844).
[9]. Shahîh: HR. an-Nasâ-i (III/189).
[10]. al-Bâ’its ‘alâ Inkâril Bida’ wal Hawâdits (hlm. 50).
[11]. Lihat ‘Ilmu Ushûl Bida’ (hal. 119-120).
[12]. Ma’ârijul Qabûl (II/519-520).
[13]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 2697) dan Muslim (no. 1718)
[14]. Tafsîr Ibni Katsîr (II/32).
[15]. Lihat Iqtidhâush Shirâtil-Mustaqîm Mukhâlafatu Ash-hâbil Jahîm oleh Ibnu Taimiyyah (II/614-615), juga dalam Zâdul Ma’âd oleh Ibnul Qayyim (I/59).
[16]. Shahîh: HR. Muslim (no. 1162).
[17]. Shahîh: HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasâ-i (V/268), Ibnu Mâjah (no. 3029), Ibnu Khuzaimah (no. 2867) dan lainnya, dari Ibnu ‘Abbâs z .
[18]. Shahîh: HR. Abû Dâwud (4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (211/ Shahîhul Adâbil Mufrad no 155), an-Nasâ-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (247, 249).
[19]. Shahîh: HR. Al-Bukhâri (3445).
[20]. Aqîdatut Tauhîd (hal 151).
[21]. Lihat al-Ibdâ’ fîi Madhâril Ibtidâ’ oleh Syaikh Ali Mahfûzh (251-252).
[22]. Lihat at-Tahdzîr minal Bida’ oleh al-Allâmah Imam Abdul Aziz bin Bâz (13).
[23]. Shahîh: HR. Muslim (2278).
[24]. At-Tahdzîr minal Bida’ (hal. 14)
[25]. Dinukil dari al-Bida’ al-Hauliyah (hal. 192-193) dengan diringkas.
[26]. Al-Maurid fii ‘Amalil Maulid. Dinukil dari Rasâ-il fî Hukmil Ihtifâl bi Maulidin Nabiy (I/7-14) dengan ringkas.
[27]. Majmû’ Fatâwâ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXV/298).
[28]. Al-Madkhal (II/234-235).
[29]. Hukmul Ihtifâl bil Maulid an-Nabawi. Dinukil dari Rasâ-il fii Hukmil Ihtifâl bi Maulidin Nabiy (I/57) dengan ringkas.
[30]. Ar-Raddul Qawiy ‘ala ar-Rifâ’i wal Majhûl wa Ibni ‘Alawi wa Bayân Ahkhtâ-ihim fil Maulidin Nabawi. Dinukil dari Rasâ-il fii Hukmil Ihtifâl bi Maulidin Nabiy (I/70) dengan ringkas.
[31]. Majmû’ Fatâwâ wa Rasâ-il Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (II/298) dengan diringkas.
[32]. Al-Muntaqâ min Fatâwâ Syaikh Shâlih Fauzân (II/185-186) dengan diringkas.

OLEH: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Tuesday, November 30, 2010

KHAS BUATMU : ISTERI SOLEHAH, Kewajipan Terhadap Suami & Ganjaran ALLAH

Kepadamu...oleh Ummu Salamah Nur Farhamizah pada pada 23hb November 2010 pukul 9.38 ptg.


HADIS-HADIS MENGENAI ISTERI YANG SOLEHAH..

Kepada setiap wanita yang sudah bersuami, atau yang bakal membina rumah tangga serta peringatan kepada diri sendiri juga.. Perhatikanlah betapa tingginya darjat suami kita terhadap kita dan jangan sesekali meremehkannya. Juga, lihatlah betapa tingginya ganjaran buat para isteri..

Rasulullah S.A.W bersabda:

“Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita yang solehah.” (Hadis Riwayat Muslim)

“Apabila seseorang wanita solat 5 waktu sehari, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan MENTAATI SUAMINYA maka akan dikatakan kepadanya: Masukilah syurga dari mana-mana pintu yang kau kehendaki.” (Riwayat Ahmad dan dihukum Sahih oleh Al Albaani)

“Kalau saja aku boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang lain, nescaya aku akan menyuruh para wanita untuk bersujud kepada suami mereka. Seorang wanita itu belumlah memenuhi seluruh hak Allah terhadapnya sampai ia memenuhi seluruh hak suaminya terhadapnya. Iaitu kalau suaminya menginginkan dirinya sedang ia berada di atas pelana, maka ia akan memenuhi keinginan suaminya itu.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan yang lain dengan lafaz yang mirip. Dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam “Ash Shohiihah” 1203.)

Rasulullah S.A.W juga bersabda:

“Kalau saja kedua lubang hidung suaminya mengeluarkan darah dan nanah, kemudian ia jilati dengan lidahnya, ia belumlah memenuhi hak suamimu itu. Kalau sahaja manusia itu pantas bersujud kepada seorang manusia lain, maka aku akan menyuruh para wanita untuk bersujud kepada suami mereka ketika para suami itu masuk mendatangi mereka karena keutamaan yang telah Allahberikan kepada para suami di atas para istri.”
Dikeluarkan oleh Al Hakim dan yang lain. Ia berkata: isnadnya shahih namun tidak dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim.


ISTERI ADALAH PEMIMPIN DI RUMAH SUAMI

Wanita yang beragama berupaya mendidik anak-anaknya dengan sempurna. Dia tahu dan sedar bahawa dirinya adalah ketua di rumah suaminya. Bertanggungjawab dalam memastikan anak-anak diberikan didikan agama yang secukupnya. Oleh itu, dia sentiasa memastikan anak-anaknya membesar dengan sempurna dari segi rohani dan jasmani. Jadi, suami yang meninggalkan anak-anaknya bersama isteri kerana mencari rezeki tidak akan bimbang kerana dia sedar bahawa isteri solehah lagi beragama yang dipilihnya itu berupaya menjaga dan mendidik anaknya dengan amanah sepanjang ketiadaannya di rumah.

Sabda Rasulullah s.a.w:

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap orang akan ditanya terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya. Setiap seorang kamu adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)


PARAS RUPA, HARTA BENDA & KEDUDUKAN TIDAK KEKAL

Kecantikan paras rupa, harta benda dan darjat keturunan tidak akan berkekalan. Namun, kebaikan dan akhlak yang mulia akan kekal selagi hayat dikandung badan. Sehinggalah ia membawa pelakunya ke syurga.

Antara kelebihan wanita solehah ialah akan sentiasa menghiburkan hati suami, redha dan menghargai pemberian suami serta sanggup bersama suami sama ada ketika susah mahupun senang. Ini kerana, agama menuntut dia melakukan demikian.

Sebuah riwayat menceritakan:

“Seorang wanita datang kepada Rasulullah s.a.w kerana hajat tertentu. Apabila selesai, Rasulullah s.a.w bertanya: Adakah kamu mempunyai suami? Dia menjawab: Ya. Sabda baginda: Bagaimanakah kamu dengan dia? Dia menjawab: Aku tidak melalaikan haknya melainkan jika melibatkan apa yang tidak mampu kulakukan. Sabda baginda: Kamu perlu lihat keadaan kamu daripadanya. SESUNGGUHNYA SUAMIMU ADALAH SYURGA DAN NERAKAMU..” – Riwayat Ahmad dan al-Nasaai dengan sanad yang baik.

Wanita solehah memahami hak suami. Dia berusaha menunaikan semua hak itu semata-mata kerana mengharapkan redha ALLAH. Apa sahaja masalah rumah tangga yang dihadapinya akan ditangani secara baik dan terbuka. Dia juga bersedia menerima segala sikap baik dan buruk suami. Serta memohon petunjuk ALLAH agar dipermudahkan segala masalah yang dihadapinya ketika melayari hidup berumah tangga. Dia tidak akan sekali-kali membuka rahsia suami kepada orang lain terutamanya yang melibatkan rahsia di tempat tidur mereka.

Sabda Rasulullah s.a.w:

“Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi ALLAH pada hari kiamat ialah seorang lelaki yang mendatangi isterinya dan isteri yang mendatanginya, lalu salah seorang mereka mendedahkan rahsia pasangannya.” – Riwayat Muslim.

Mereka sentiasa gembira dan ikhlas menjalankan tugas sebagai isteri semata-mata kerana ALLAH dan yakin terhadap sabda Rasulullah s.a.w bahawa seorang wanita yang melakukan solat lima waktu, puasa Ramadan, menjaga kemaluan dan mentaati suami, dia boleh masuk syurga melalui mana-mana pintu yang disukainya. (Hadis sahih riwayat Ahmad dan al-Tobrani).

Oleh itu, segala perintah agama dilaksanakan sepenuh hati semata-mata kerana ALLAH. Muslimah yang baik sentiasa memahami bahawa ketaatan yang diberikan kepada suami adalah sebagai melaksanakan perintah ALLAH. Asalkan ketaatan itu bukanlah yang bertentangan dengan syariat dan hukum ALLAH. Setelah itu dia akan diberikan pahala yang tidak terhingga banyaknya.. Keengganannya berbuat demikian mengundang laknat dan kemurkaan ALLAH.


TIDAK MENOLAK PERMINTAAN SUAMI

Wanita solehah tidak akan sekali-kali mengabaikan permintaan suaminya di tempat tidur. Dia sentasa berwaspada terhadap sabda Rasulullah s.a.w yang menyebut:

“Demi yang jiwaku di tangan-NYA, mana-mana suami yang memanggil isteri di tempat tidur, lalu isteri itu enggan memenuhinya, maka segala yang ada di langit dan bumi akan murka terhadapnya sehinggalah suaminya redha kepadanya.” – Riwayat Muslim.

Dia juga memahami bahawa permintaan suaminya itu wajib dipenuhi segera dan tidak boleh ditangguhkan walaupun ketika itu dia sedang sibuk di dapur atau berada di atas kenderaan.

Permintaan yang ditunaikan itu dapat menjaga dan membantu suaminya menghindari segala bisikan dan runtunan syahwat yang melanda fikirannya. Dan menenangkan jiwa suaminya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Nabi s.a.w bersabda:

“Apabila salah seorang kamu tertawan dengan seorang wanita dan hal itu berbekas dalam hatinya, dia hendaklah segera mendapatkan isteri dan menggaulinya. Sesungguhnya itu akan membuang segala perasaan yang ada dalam dirinya.” - Riwayat Muslim.

Hal ini amat berbeza sekali dengan wanita yang tidak memahami tuntutan agama. Mereka sewenang-wenangnya menolak permintaan suami dan menganggap perbuatan itu tidak mendatangkan sebarang dosa. Mereka sewenang-wenangnya memberi alasan penat atau sebagainya. Amaran dan ancaman laknat ALLAH dan malaikat terhadap perbuatan itu langsung tidak berbekas dalam hatinya.

Wanita solehah yang memahami kewajipan itu akan berusaha sebaik mungkin menjalankan tanggungjawabnya. Sepenat manapun, dia akan berusaha menunaikan segala permintaan suami. Ini kerana, redha ALLAH kepadanya terletak pada redha suami terhadap dirinya.


MENJAGA BATAS PERGAULAN

Isteri solehah sentiasa memelihara auratnya ketika berurusan dengan lelaki yang bukan mahram. Cara percakapan dan akhlak sentiasa diawasi agar tidak melanggar batasan syarak. Dia tidak bercakap melainkan perkara yang baik. Jauh sekali mengumpat dan mengeji orang lain. Larangan mengumpat, menghina dan mengejek orang lain yang dinyatakan dengan jelas oleh al-Quran dan sunnah sentiasa terpahat dalam hatinya.

Isteri solehah membimbing dan menasihati suami dalam melakukan apa yang terbaik untuk agama dan rumah tangga. Juga memberikan pandangan yang bernas terhadap dakwah dan kerjaya suami. Wanita pertama yang menjadi contoh terbaik dalam hal ini ialah Khadijah binti Khuwailid, isteri pertama Rasulullah s.a.w. Beliau merupakan orang pertama yang beriman, membenarkan, menyokong, berkoran jiwa dan raga serta sentiasa bersama baginda di saat-saat sukar baginda dalam menyampaikan dakwah.

Segala kebaikan, sokongan dan pengorbanan beliau ini mendapat pengiktirafan dan penghargaan daripada ALLAH S.W.T. Sehinggakan ALLAH dan Jibril berkirim salam kepada beliau dan menjanjikan sebuah mahligai untuknya di syurga kelak. Hal itu adalah penghargaan ALLAH terhadap segala kebaikan, layanan dan pengorbanannya buat suami tercinta.

Abu Hurairah menceritakan ketika saat wahyu mula-mula turun di mana baginda selalu bertahannuts di Gua Hirak:

“Jibril mendatangi Nabi s.a.w lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah telah mendatangimu. Bersamanya ada bekas yang berisi lauk, makanan atau minuman. Apabila dia mendatangi kamu, maka sampaikanlah kepadanya salam TUHANnya dan daripadaku dan berilah khabar gembira kepadanya tentang sebuah mahligai di dalam syurga yang dibina daripada emas. Tidak ada kesusahan dan keletihan di dalamnya.” – Riwayat al-Bukhari dan Muslim.


SENTIASA KEMAS & BERSIH

Dia cintakan ilmu pengetahuan dan sentiasa bersedia menghadapi apa juga cabaran hidup. Dia akan sentiasa menguruskan rumah tangga mengikut apa yang dipelajari dan dididik kepadanya sejak kecil. Menjaga akidah, amal ibadah, solat, puasa dan memastikan seluruh anggota keluarganya mentaati perintah agama. Dia juga sentiasa berhias untuk suaminya dan memastikan dirinya sentiasa kemas, bersih dan harum ketika berada di hadapan suami.

Sabda Rasulullah s.a.w:

“Antara punca kebahagiaan anak Adam ialah memiliki isteri yang solehah, tempat tinggal yang selesa dan kenderaan yang baik. Antara punca kecelakaan anak Adam ialah isteri yang jahat, rumah yang tidak selesa dan kenderaan yang tidak elok.” – Riwayat Ahmad melalui para perawi yang sahih.

Wanita solehah hanya berhias dan mempamirkan kecantikannya hanya untuk suaminya. Dia tidak mempamerkan di hadapan suami melainkan apa yang cantik dan wangi. Dalam sebuah riwayat diceritakan:

“Rasulullah s.a.w ditanya tentang sebaik-baik wanita. Baginda menjawab: Yang menyukakan kamu apabila memandangnya. Apabila disuruh, dia patuh, menjaga rahsiamu dengan baik dan menjaga harta kamu.” – Riwayat Ahmad dan selainnya dan dihasankan oleh al-Albani.

Malang sekali ramai di kalangan wanita memandang remeh perkara ini. Mereka salah faham lalu mempamerkan diri di hadapan suami dalam keadaan kusut masai, berbau, pakaian compang-camping dan sebagainya. Lebih buruk lagi ada yang hanya berkemban sepanjang berada di rumah.

Sebaliknya apabila hendak keluar rumah, mereka berhias secantik mungkin untuk dipamirkan kepada lelaki yang tidak berhak melihatnya. Ini bukan sahaja tidak wajar, malah mengundang dosa besar dan musibah terhadap keharmonian rumah tangga muslim.


SEHARUSNYA..

Maka sekiranya kita dah tahu dan yakin akan kewajiban terhadap suami, maka hendaklah kita berusaha mendapatkan keredhaannya dengan pelbagai cara.Dan berusahalah untuk menjadi sebagaimana seorang wanita yang solehah iaitu Khadijah binti Khuwailid, isteri Rasulullah S.A.W.. Yang memanjakan suaminya, yang meringankan bebannya ketika menghadapi kerasnya kehidupan, yang memperhatikan kesukaan-kesukaannya kemudian mewujudkannya, dan memudahkan kesulitan-kesulitannya walaupun dengan mengorbankan dirinya sendiri.

“Jadilah orang yang sedemikian mengagungkannya, maka dia akan menjadi orang yang sedemikian memuliakanmu.
Dan juga jadilah orang yang sedemikian menurutinya, maka dia akan menjadi orang yang sedemikian lama dapat engkau dampingi.

Dan ketahuilah bahwasanya engkau tidak akan dapat meraih apa yang engkau sukai sebelum engkau mendahulukan keredhaannya di atas keredhaan dirimu sendiri dan mendahulukan keinginannya di atas keinginanmu sendiri dalam segala hal yang engkau sukai ataupun engkau benci. Dan semoga Allah menjadikan semuanya baik untukmu”

Semoga perkongsian ni dapat memberi manfaat dan ingatan pada semua dan bersamalah kita berusaha memperbaiki diri.. Sebarang teguran amat dialu-alukan..

HARAP DAPAT DI SHARE DAN DISEBARKAN KEPADA SAHABAT-SAHABAT YANG LAIN.. Semoga sama2 beroleh manfaat..

Wallahu'alam..

Thursday, November 25, 2010

~Ikhlas : Ia Lebih Sukar Tetapi Kemestian !~

Sesungguhnya Ia Lebih & Malah Sangat Sukar ...


Ramai yang berkata tentang ikhlas, ada yang mempertikaikan keikhlasan seseorang, ada pula yang mendakwa tindakannya dibuat secara ikhlas. Apa sebenarnya ikhlas? Benarkah manusia, khususnya umat Islam di dunia kini terlalu kurang keikhlasan?. Ikhlaskah diri kita dalam berdakwah, berpolitik, menulis, bercerita, belajar, mengajar, mendidik dan berniaga?.

Ini satu persoalan yang besar di sisi Islam dan keikhlasan memerlukan satu mujahadah besar. Ia tidak mudah dan hanya mampu dicapai KECUALI oleh mereka yang benar-benar telah berjaya menanggalkan kecintaan kepada semua jenis makhluk, sama ada ia adalah pangkat, pujian, harta, dianggap selebriti, wang dan kebanggaan.

Allah swt mengingatkan :-

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
Ertinya : Katakanlah: ""Sesungguhnya aku diperintahkan supaya mengabdikan diri kepada Allah dengan ikhlas ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama ( Az-Zumar : 11)

Nabi s.a.w pula bersabda :-

إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصًا، وابتغي به وجهه
Ertinya : Sesungguhnya Allah swt tidak akan menerima amalan kecuali apa yang dibuat dalam keadaan ikhlas, berkeinginan kepada wajahNya ( Al-Bukhari, no 97, kitab al-Ilm)

APA ITU IKHLAS?

Imam Abu al-Qasim Al-Qusyairi, seorang ahli tasauf yang terkemuka memeberikan definisi Ikhlas sebagai:-

إفراد الحق سبحانه في الطاعة بالقصد، وهو: أنه يريد بطاعته التقرب إلى الله سبحانه دون أي شيء آخر؛ من تصنع لمخلوق، أو اكتساب محمدة عند الناس، أو محبة مدح من الخلق، أو معنى من المعاني سوى التقرب به إلى الله تعالى، ويصح أن يقال: الإخلاص تصفية الفعل من ملاحظة المخلوقين
Ertinya: Ikhlas adalah mengesakan haq Allah swt dalam segala amalan ketaatan dengan niat, iaitu dia melakukan amalan ketaatannya hanyalah untuk menghampirkan diri kepada Allah swt, tiada apapun selain itu, iaitu mereka yang melakukannya kerana Makhluk, atau kerana ingin mendapat pujian mereka, serta kecintaan kepada pujian makhluk, atau apa jua sebab-sebab yang selain redha Allah. Boleh juga dikatakan, bahawa Ikhlas itu adalah pembersihan (niat) diri (semasa amalan) dari segala segala perhatian manusia. ( Al-Risalah al-Qusyairiah, tahqiq Abd Halim Mahmud, 1/443)

UZAR

Memang mudah untuk melafazkan kata ikhlas, mudah juga untuk cuba menyakinkan diri bahawa diri ikhlas dalam perjuangan, namun untuk benar-benar memastikan hati sentiasa istiqamah ikhlas kepada Allah swt, ia bukan satu tugas yang mudah, namun ia maha penting dan penentu masa depan kita tatkala berdepan dengan Allah swt kelak.

Ada yang berkata, ketidakiklasan itu boleh terlihat dek tanda-tanda dari mulut melalui cakap-cakap dan kata-katanya,

dari tulisan melalui baris ayatnya,

dari tindakan melalui memek wajah dan pergerakannya.

Apapun, persoalan utama bukanlah ghairah dan sibuk meneliti keikhlasan orang lain serta mempertikaikannya, tetapi adalah meneliti dan memperbaiki diri sendiri.

PENDAKWAH MELALUI CERAMAH

Pendakwah melalui medan ceramah hari ini sangat tercabar,

Bukan kerana bimbang ditangkap kerana ketiadaan tauliah, itu tidak mencabar,

Atau di kurung melalui akta ISA kerana sebab yang sepatutnya anda faham,

Dibuang kerja kerana dakwahnya menentang arus politik kerajaan atau membelakangkan AUKU,

Sebenarnya, apa yang lebih mencabar adalah menjaga hati untuk ikhlas. Ada yang ‘jatuh' kerana beberapa ada tujuan baru yang mengambil alih tempat ‘ikhlas' kerana Allah swt iaitu :-

• Keujuban di dalam diri : Ada penceramah yang merasa diri sebagai hero dan telah mencapai maqam pejuang berkorban persis Nabi Ibrahim a.s apabila mereka ditangkap, dipenjara dan didenda oleh pihak yang menghalang dakwah.



Malangnya, ujian itu merosakkannya, hingga dirasakan diri terlalu hebat, lalu dinafikan ketulenan pejuang lain yang belum ditangkap sebagai amatur dan bertaraf rendah. Sama ada melalui tulisan, percakapan mahupun gerak hatinya.



Lebih menyedihkan jika peristiwa halangan ini mengubah niatnya kepada untuk terus menerus dilihat gagah dan berani dalam dakwahnya. Hilang habislah tujuan Allah dari hatinya.



• Imbuhan dan bayaran : Penceramah sekali lagi digegarkan keikhlasan mereka akibat imbuhan dan bayaran. Mungkin pada mulanya ramai penceramah yang mampu berniat ikhlas kerana Allah, menyampaikan ilmu kerana menurut sunnah Rasululah s.a.w. Namun lama kelamaan, apabila nama menaik, muncul di kaca TV, di corong radio, berteleku di hadapannya para bangsawan, menteri, jutawan dan pembesar, ikhlasnya menjadi semakin terhakis.



Populariti menjadikannya semakin ‘sakit' di sisi Allah. Sebarang ceramah tanpa bayaran atau tidak menepati statusnya akan ditolak mentah atau dituntut tunggakan bayaran. Jika sekadar tambang dan kos-kos biasa, mungkin ia munasabah, namun apa yang dituntut dan diminta adalah tinggi menggunung tanpa mengira status pihak yang menjemput. Di ketika itu, Imbuhan dan bayaran telah mengambil tempat Allah swt dalam hatinya.



• Kecintaan kepada pujian : Penceramah juga diserang oleh rasa cinta kepada pujian manusia, segala isi ceramah cuba difikirkan apa yang sesuai dan disukai oleh pendengar, jika pendengar sukakan gelak, seribu satu macam ceritera lucu mengundang tawa akan dimainkan.



Jika pendengar sukakan dalil-dalil dan kata-kata ulama dan para sahabat akan dipersembahankan,



jika pendengar sukakan ‘nota kaki' dan nama kitab, itu juga akan digariskan dan disebutkan dengan lancar lagak seorang mujtahid ulung.



Benar, ada yang mampu untuk terus ikhlas, menyediakan semua itu bagi menambah keberkesanan ceramahnya, membawa manusia kepada Allah swt, namun tidak sedikit yang ikhlasnya menjadi pudar, lalu semua itu disediakan agar dilihat,



‘Hebat', ‘Alim', ‘Pakar' ‘Bijak', ‘Best', ‘Sarjana', ‘Setaraf Tok Guru', ‘Persis Mujtahid' dan pelbagai lagi tujuan-tujuan salah yang dimomokkan oleh Syatian setiap hari.



Di benak para pendakwah melalui ceramah ini, sentiasa berusaha untuk ikhlas kerana Allah, namun Syaitan sentiasa berjuang merosakkan ikhlasnya dengan apa yang tersebut di atas malah berpuluh lagi cara. Ya Allah, alangkah mencabar dan sukarnya untuk mengekalkan keikhlasan dalam perjuangan melalui medium ceramah.



PENDAKWAH MELALUI TULISAN

Ada di kalangan insan yang soleh lagi baik ini, tidak berkemampuan dalam bertutur lancar dan menawan. Namun dianugerahi kelebihan menulis yang baik dan mengkagumkan. Lalu pendawkah ini mula mengorak langkah menulis buku-buku, membuka web sendiri dan blog, menyebar ilmu melalui tulisannya di forum-forum maya, majalah, buletin dan sebagainya.

Niatnya hanyalah satu, iaitu menyebarkan ilmu bagi mendekatkan manusia kepada Allah swt, redha Allah adalah objektif.

Namun, dari semasa ke semasa, objektif unggul itu boleh sahaja menjadi pudar akibat :-

a- Royalti dan Honorium

Hasrat dunia sekali lagi boleh menjadi penghalang bagi seseorang penulis untuk istiqamah dalam keikhlasan. Royalti dan honorium sudah mengambil tempat ‘Kerana Allah', tujuan dan objektif tertinggi yang sepatutnya ‘Akhirat' sudah berubah nama kepada ‘Dunia'

"Jika demikian, kita menulis secara percuma, menyerahkan manuskrip buku kepada penerbit tanpa perlu sebarang royalti dan honorium" Demikain tegas beberapa rakan pendakwah, berusaha mencapai penerusan dalam ikhlas. Mujahadah dan menjerat nafsu agar tunduk kepada niat yang tulus ikhlas.

"Tidak semestinya berjaya juga, ikhlas tidak semestinya tanpa bayaran dan honorium, ia di dalam hati" Terang saya mengingatkan diri.

Matanya mula berkerut mendengar ayat ringkas saya itu. Namun akhirnya dia terangguk-angguk tanda faham tanpa memerlukan penjelasan lanjut.

Manakan tidak, seseorang mungkin boleh membuang semua habuan harta itu untuk mencapai ikhlas, namun ikhlas belum tentu boleh wujud semudah itu.

Perasan diri ‘hebat', ‘merasa diri ikhlas kerana tidak mengambil habuan harta', rasa diri lebih ikhlas dari mereka yang menerima royalti, suka dan gembira menerima pujian orang sekeliling yang mengisbatkan dirinya sebagai ikhlas kerana tidak mengambil royalti dan honorium juga adalah ‘pembunuh' sebuah keikhlasan yang tulen.

Sebenarnya keikhlasan itu boleh wujud sama ada di ketika seseorang pendakwah menerima imbuhan wang hasil penulisan dan ceramahnya, atau juga sebaliknya. Apa yang terdetik di dalam hati serta menjadi tujuan diri, itulah jawapannya.

Jika honorium dan royalti tidak memberi kesan kepada hati dan niat asal perjuangannya, ia masih boleh mengekalkan Ikhlas di sisi Allah walau menerima gunungan royalti.

Jika pujian dan apa jua pujian orang terhadap penulisannya dan ketegasannya sehingga menolak sebarang bayaran hasil tulisan dan ceramahnya itu tidak berbekas di hati dan bermuzik indah di mindanya. Ia telah ikhlas.

Itu tandanya apa juga yang dari manusia sudah tidak memberikan kesan kepada hatinya, hanya redha dan cinta Allah yang ditagihinya. Yang lain hanyalah sampingan, wujud dan tiadanya tidak memberi kesan kepada jiwa.

Bagi individu ikhlas yang mengambil royalti, apa yang diperolehi pasti digunakan bagi menambahkan amal bakti kepada umat Islam yang kurang bernasib baik atau menjalankan tanggung jawab dan kewajiban yang tertanggung ke atas dirinya. Hasilnya kebajikan akan berganda hasil royalti dan honorium yang diterima.

Bagi yang menolak royalti serta mampu mengekal ikhlas, lalu disunyikan tindakannya itu dari pengetahuan segala macam manusia, agar tidak terganggu hatinya dengan pujian menggunung. Jika diketahui sekalipun, hatinya tidak sama sekali terbekas dengan kata-kata manis manusia, tidak pula dia merasa dan memandang rendah kepada mereka yang menerima royalti.

Orang lain tidak perlu ukur ikhlas orang lain, tidak perlu juga mempertikai atau mengiakan keikhlasan seseorang. Cukuplah masing-masing mengukur keikhlasan dirinya dan fikirkan tentangnya sentiasa.



• Pujian, nama dan selebriti



‘Aku menulis bukan kerana nama' Itulah laungan lagu yang sudah sekian lama kita dengari.

Pendakwah mungkin menulis di peringkat awalnya, hanya kerana Allah. Namun di ketika pujian mencurah-curah datang tanpa ditagih. Hatinya kian terganggu, bukan apa...

Terganggu apabila beberapa tulisannya tidak dipuji sebagaimana sebelumnya

Tatkala itu, keikhlasannya hancur. Tempatnya diambil oleh ‘Tuhan baru' iaitu ‘pujian' dan ‘sanjungan'. Redha manusia menjadi objektif barunya kini. Semuanya kerana dia menyedari sanjungan itu akan boleh membawanya kepada mencipta nama, bukunya boleh menjadi ‘best seller' kerana peminat fanatiknya itu, wang boleh mencurah jatuh ke atas ribaan.

Tatkala itu, diri sendiri seolah sudah memberi gelar kepada dirinya sendiri,

"aku sudah menjadi seorang selebriti kerana tulisanku"

Kalau tidak diakui sendiri, tatkala ada rakan lama yang berkata :

"wah!, engkau sudah jadi selebriti sekarang ini, tahniah"

Dengan kadar beberapa saat minda, hati dan perasaannya mengakui hakikat itu dan merasa sedikit bangga dengannya. Tanpa disedari, mengakui keselebritian diri itu tanda kita sedang ditipu oleh dunia. Lebih ‘sakit' apabila kebanjiran manusia yang membeli buku, melawat web atau blog, yang menjadi rakan di facebooknya, kemunculannya di TV dan Radio dilihat sebagai indikasi bahawa dirinya sudah layak bergelar ‘selebriti', ‘public figure' yang menggembirakan.

Apa yang patut dibuat sepatutnya adalah, hati wajib menafikannya serta segera menarik hati dan jiwa kepada persoalan berikut:

"Adakah aku sudah berjaya menjadi selebriti atau ‘public figure' penulis (atau penceramah) di sisi Allah, pada pandangan Allah?, Bukankah itu tujuan asal kita?"

Saya teringat kata-kata sahabat besar, iaitu Ibn Mas'ud r.a , ketika beliau keluar berjalan, kerap ada ramai yang mengikutnya, bagi mendapatkan ilmu darinya, lalu beliau berkata kepada khalayak yang mengikutinya:

علام تتبعوني؟ فوالله لو تعلمون ما أغلق عليه بابي ما اتبعني منكم رجلان
Ertinya : Atas sebab apakah kamu semua mengikutiku? Demi Allah kalau kamu tahu apa yang aku lakukan dibalik pintuku yang tertutup nescaya tiada siapa yang akan mengikutiku lagi. ( Ihya Ulumiddin, Al-Ghazzali & Tafsir Ibn Kathir, 6/343)

Justeru, maka sedarilah diri yang mudah lupa, Syaitan sentiasa berusaha menghancurkan kewarasan iman kita. Ikhlas kita sering menjadi sasaran sang Syaitan, untuk dilupuskan. Bukankah ia sebuah ujian yang sukar buat para pendakwah. ? Ya tentunya, malah mungkin lebih sukar dari ditangkap dan dipenjara jasad. Hati yang terpenjara dengan niat selain Allah adalah sebesar-besar kegagalan manusia, yang sepatutnya menjadi hamba dan khalifah Allah swt.



• Ahli akademik, Pangkat dan gelaran



Sebahagian pendakwah dari kalangan penulis terdiri dari golongan bijak pandai di Universiti, khususnya di fakulti-fakulti yang melibatkan Islam. Mereka banyak mengkaji dan menulis hasil kajian mereka dan seterusnya disiarkan melalui buku, jurnal, pembentangan di konferen dan seminar dan sebagainya. Niat asal tidak lain tidak bukan hanya mencapai redha Allah dan mencerahkan manusia kepada jalan keredhaan Ilahi. Merungkai yang kusut, menjernih yang keruh, melurus yang bengkok dan memurnikan yang bergolak.

Namun, sebagaimana pendakwah yang lain, kumpulan ini juga turut digoda dan akhirnya niat ikhlas tersasar dari landasannya.

Seorang pensyarah universiti terlihat saya sedang menulis dengan tekun lalu menyapa :

"Tengah menulis apa?"

"Tengah siapkan sikit lagi buku baru saya" jawab saya ringkas

"Buku tentang apa? Rugi kalau tulis sekarang ni, tunggulah dah siap PhD nanti. Tulis buku sekarang ini tak masuk dalam kiraan merit" katanya tanpa rasa malu dan segan.

"Berkenaan kewangan Islam, ooo ye ke tak masuk dalam merit, tapi tak mengapalah" jawab saya semula, cuba ambil hati beliau yang sibuk memikirkan soal merit.

"Tapi kalau rasa nak jual buku dan ambil royalti aja, pun ok juga" katanya lagi sambil tergelak kecil dan kemudiannya berlalu pergi.

Saya hanya mampu memberikan senyuman tawar kepadanya.



Itulah kebanyakan mentaliti pensyarah dan ahli akademik yang wujud dewasa ini, jelas sungguh apa yang dalam benaknya hanyalah merit dan wang. Tidak terfikir olehnya menulis kerana Allah dan mencapai redha Allah walau tidak peroleh merit ataupun royalti. Mungkin agaknya terlalu pelik di zaman ini? Mari sama-sama kita berusaha mencapainya..menjadi orang pelik di akhir zaman !

Memang ramai dari kalangan ahli akademik yang menulis kerana mengejar merit untuk melayakkan diri mendapat kenaikan gaji dan pangkat. Kerap kali terdengar perbincangan di kalangan mereka hanya berkisar tentang naik pangkat, mesti capai prof madya segera, naik gred gaji, jurnal antarabangsa dan seumpamanya,

Justeru itu, tulisannya digubah indah lagi rumit dipenuhi bahasa-bahasa akademik, katanya "khas untuk pembacaan bijak pandai". Ya itu perlu bagi menunjukkan kebijaksanaannya. Jurnal-jurnal menjadi ‘kegilaan' ahli akademik di zaman ini, begitu banyak senarai jurnal dalam catitannya, sama ada jurnal kelas tinggi, sederhana dan rendah.

Hidupnya di bilik sejuknya digadaikan untuk menghasilkan kajian dan penulisan cemerlang di mata majlis editor pakar sesebuah jurnal yang dicintainya. Jika tidak sedemikian, ada pula yang menulis untuk konferen besar, mulanya niat adalah untuk mengembangkan ilmu kepada masyarakat antarabangsa, agar mereka turut mendapat redha Allah, namun malang di pertengahan jalan, niat tersasar.

Populariti serta networking yang ditagih dalam konferen dan seminar besar yang dihadirinya, semua diniat untuk menambah kenikmatan dunia. Ya, harapannya untuk menaikkan pencapaian diri di dunia dengan kepujian, dilihat 'berjaya oleh sanak saudara dan taulan. Tidak lupa juga untuk membawa pulangan harta juga. Akhirnya, niat ikhlas kerana Allah menjadi semakin terpadam, sedikit demi sedikit hingga tidak tinggal satu apapun amalannya yang dilihat oleh Allah swt.





PENDAKWAH MELALUI POLITIK, JAWATAN DAN PANGKAT

Ada sekumpulan pendakwah, berjuang Islam dan mencari redha Allah melalui jalan politik, jawatan yang dipegang yang yang ‘ingin dipegang'.

Di dalam hati mereka seolah tertulis, ingin melaksanakan yang terbaik untuk mencapai maqam terbaik di sisi Allah, lalu jalan ini diambil selain jalan-jalan sampingan yang lain juga turut digunakan.

Namun liciknya Syaitan, dengan mudah sahaja seorang pendakwah Islam melalui medium politik boleh jatuh tersungkur di sisi Allah. Akhirnya dia berjuang bukan lagi kerana Islam dan redha Allah, tetapi kerana kecintaan kepada penyokong yang ramai, pangkat, pejabat besar dan puja puji orang bawahan.

Lebih parah, apabila dipandang hina semua pendakwah yang tidak berjuang sepertinya atau ‘ tidak berjuang melalui jalan politik'. Dirasakan mereka itu semua bacul, penakut, sebahagiannya munafiq, tercicir di jalan dakwah, hanya ingin berjuang dalam comfort zone, pendakwah ‘mee segera' dan pelbagai lagi perasaan benci dan gelaran buruk kalau boleh disebatikan dengan pendakwah yang tidak sepertinya.

Tatkala itu, hancurlah amalannya, bukankah telah disabda Nabi s.a.w bahawa ‘ujub itu menghancur amalan. Lebih jauh dari itu, digelar pula dirinya sebagai mujahid, pejuang Islam tulen atau pelbagai gelaran lain bagi menunjukkan dirinya sedang berjuang dengan gagah berani lagi sengit. Tidak seperi pendakwah lain.

Sepatutnya, jika gelaran ‘mujahid' itu diberi orang, janganlah dia terkesan dengannya, kerana dirinya mungkin dilihat pejuang di sisi manusia, namun belum tentu di sisi Allah. Orang yang berjuang boleh berdoa agar tergolong di kalangan pejuang, namun untuk melabelkan diri sebagai ‘pejuang', itu bukan caranya. Biar Allah sahaja menentukan kita adalah pejuang atau tidak. Tugas kita adalah sentiasa memastikan kita layak melalui ikhlas dan rendah diri.

Cabaran pendakwah melalui medan politik memang besar, ia boleh datang dari pihak sekular yang membencinya, lalu digunakan kuasa untuk menekan dan mengancamnya. Ia juga boleh datang dari Syaitan durjana yang jauh lebih professional dari manusia yang terlihat dek mata.

Boleh sahaja, perjuangan itu tersasar kerana keinginan kepada ‘kuasa' terlebih dari sepatutnya. Tatkala itu keikhasannya pudar dan semakin terpadam. Akhirnya takala dia sudah memegang kuasa, jawatan, apa yang dijanjikan kepada Allah sebelum ini dilupakan, kerjanya untuk mencapai redha manusia dan pengundinya menjadi semakin dominan berbanding redha Allah. Tatkala itu hancurlah dia pada pandangan Allah swt.

PENDAKWAH MENUNTUT ILMU

Selain berdakwah dengan mengajar, pendakwah juga sentiasa berterusan belajar dan terus belajar. Hasil ilmu asas yang baik dalam diri, dijadikan modal untuk meneruskan pembacaan dan galian ilmu yang tiada tara dalamnya.

Namun, seseorang yang menuntut ilmu sering diingatkan nabi sa.w.w agar berterusan menjaga keikhlasan. Ilmu yang dicari dan digali dengan niat menunjuk lebih pandai dan alim, jaguh berdebat, mengelirukan orang ramai, menutup kesalahan diri dan seumpamanya, akan pasti membuahkan ilmu-ilmu yang memporak perandakan masyarakat, bukan menyatukannya.

Bukankah ilmu sepatutnya membawa kepada Allah, dan semua pihak yang bersama Allah akan bersatu padu. Itulah formula yang ditegas oleh Allah swt :

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
Ertinya : Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka ( Al-Anfaal : 63)

Namun hari ini, Negara kita semakin ramai pendakwah dan ilmu yang digali dari pelbagai jenis Negara dan guru. Malangnya, manusia dan umat Islam khususnya tidak semakin tenang, tetapi semakin bergolak. Lebih tinggi ilmu mereka ini, lebih bergolak dan berpecah orang di bawahnya. Kerana apa?

Banyak sebabnya, boleh sahaja menyalahkan Syaitan dalam hal ini, namun tidak kurangnya adalah si ilmuan, pendakwah dan penuntut ilmu yang menuntut bukan ikhlas kerana Allah, tetapi atas kepentingan diri sendiri dan kumpulan yang dicenderunginya.

Dirinya merasakan sedang berjuang habis-habis menghapuskan kemungkaran dan kekeliruan dalam agama.

Dirasakan dirinya sedang adalah sentiasa di pihak yang benar lagi tepat. Hingga kebenaran yang dirasakan berada di pihaknya itu menghalalkan dirinya untuk menyesat, mengkafir, membid'ahkan dan menghukum orang dan pihak lain. Seolah tiada lagi ruang dan kemungkinan, kebenaran berada di pihak yang satu lagi.

Akhrinya, syaitan mengambil alih, mengubah niatnya dari menuntut ilmu secara ikhlas untuk mencapai redha Allah kepada menuntut ilmu agar boleh mempertahankan kumpulannya, ideanya, maruahnya, dan periuk nasinya. Lalu malang mereka...apakah yang boleh menyedarkan mereka ? Wallahu'alam.

KESIMPULAN

Tulisan ini sebenarnya lebih kepada peringatan buat sendiri. Cuma ia disiarkan untuk dimanfaatkan oleh mana-mana rakan pendakwah yang sudi mengambil manfaat.

Ia merupakan peringatan kepada salah satu cabaran terbesar buat para individu yang menceburi bidang dakwah, namun terlupa akan cabaran ini. Akhirnya minda dan hati, menjadi sarang yang busuk dek kuman dan virus Syaitan. Bimbang matinya kita kelak, merasa diri sudah berjuang dan berdakwah tetapi dilihat SEBALIKNYA oleh Allah swt.

Sebuah hadis yang sangat memberi kesan kepada jiwa, sejak dahulu lagi, iaitu :-

إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد, فأُتي به فعرفه نعمه فعرفها, قال: فما عمِلتَ فيها؟ قال: قاتلت فيك حتى استشهدت, قال: كذبت, ولكنك قاتلت لأن يقال: جريء, فقد قيل, ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار. ورجل تعلم العلم وعلّمه, وقرأ القرآن, فأتي به فعرفه نعمه فعرفها, قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلّمته, وقرأت فيك القرآن, قال: كذبت, ولكنك تعلمت العلم ليقال: عالم, وقرأت القرآن ليقال: هو قارئ, فقد قيل, ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار. ورجل وسّع الله عليه, وأعطاه من أصناف المال كله, فأتي به فعرفه نعمه فعرفها, قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تحبّ أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك, قال: كذبت, ولكنك فعلت ليقال: هو جواد, فقد قيل, ثم أمر به فسحب على وجهه, ثم ألقي في النار
Maksudnya (ringkasan terjemahan) :

Antara yang terawal diadili di hari qiyamat kelak adalah mereka yang mati syahid. Kemudian ditanya kepada mereka : Apakah yang kamu telah perbuat (amalan di dunia dahulu)?

Jawabnya : Aku telah berjuang untukMu (wahai Allah) sehingga mati syahid

Dibalas : Kamu berbohong, tetapi kamu berjuang untuk digelar "SANG BERANI"

maka dikatakan, telah ditarik semula amalannya dan dicampakkan ke mukanya dan dilontarkan dia ke dalam neraka.

Ditanyakan kepada (orang kedua) : Apakah yang kamu telah perbuat (amalan di dunia dahulu)?

Jawabnya : "Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membacakan keranaMu Al-Quran"

Dijawab semula : Kamu berbohong, kamu mempelajari ilmu agar kamu boleh digelar ‘ALIM, kamu membaca Al-Quran agar digelar "QARI"

maka dikatakan, telah ditarik semula amalannya dan dicampakkan ke mukanya dan dilontarkan dia ke dalam neraka.

Ditanyakan kepada (orang ketiga) : Apakah yang kamu telah perbuat (amalan di dunia dahulu)?

Jawabnya : "Tidak aku sesuatu yang engkau sukai untukku dermakannya kecuali telah aku dermakannya keranaMu"

Dijawab semula : "Kamu berbohong kamu mendermakannya agar kamu digelar "DERWAMAN"

maka dikatakan kepada Malaikat, lalu telah ditarik semula amalannya dan dicampakkan ke mukanya dan dilontarkan dia ke dalam neraka ( Riwayat Muslim, no 3527, Kitab al-Imarah)

Semoga kita semua dijauhkan kita semua dari racun hati oleh si musuh Allah yang sentiasa bekerja keras untuk istiqamah atas landasan ikhlas yang sebenarnya. Bagi sesiapa yang telah berjaya ikhlas, tiba-tiba dipuja dan puji oleh manusia atas sumbangan dan kebaikannya, segala itu tidak memberikan kesan kepada kecintaan dan niatnya yang ikhlas kepada Allah. Mereka itulah yang disebut dalam hadis:-

أرأيت الرجل يعمل العمل من الخير، ويحمده الناس عليه؟ قال: "تلك عاجل بشرى المؤمن
Ertinya : Ditanya kepada Nabi s.a.w berkenaan seorang yang berbuat amal kebaikan, tiba-tiba manusia memujinya?. Jawab baginda : Itulah ganjaran gembira yang didahulukan buat para mukmin" ( Riwayat Muslim)

Ibn Qayyim pernah berkata berkata : "Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat."

Benarlah, bahawa ikhlas bagi adalah satu ujian yang lebih malah sangat sukar bagi seorang pendakwah dan mukmin. Bagi lagi medium yang diceburi pendakwah termasuklah seni, drama, nasyid dan pelbagai lagi. Namun semua akan menghadapi cabaran besar ikhlas, ia sebuah cabaran yang sangat sukar...



Sekian



Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

5 Zulhijjah 1430 H

1 Disember 2009

Monday, November 22, 2010

Sunnah Di Dalam Persoalan Ziarah Kubur

Sunnah Di Dalam Persoalan Ziarah Kubur
http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Dalil Disunnahkan (disyari'atkan) menziarahi kubur:

عن بريدة بن الحصيب رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

Maksud: Dari Buraidah B. Al-Hushaib radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Dulu aku pernah melarang kamu untuk menziarahi kuburan, tetapi sekarang ziarahilah. (Hadis Riwayat Muslim, Kitab al-Jana'iz, no. 1623)

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

Maksud: Oleh kerana itu, sesiapa yang hendak menziarahi kubur, hendaklah dia melakukannya, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang batil. (Hadis Riwayat an-Nasa'i, Bab ziarah Kubur, no. 2006. Dinilai Sahih oleh al-Albani, Shahih Sunan an-Nasa'i, no. 2033)

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا

Maksud: Dulu aku melarang kamu dari tiga perkara (iaitu) menziarahi kubur, tetapi sekarang, ziarahilah ia dan hendaklah ziarah yang kamu lakukan itu menambah kebaikan... (Hadis Riwayat an-Nasa'i, Kitab adh-Dhohaya, no. 4353. Dinilai Sahih oleh al-Albani, Shahih Sunan an-Nasa'i, no. 5653)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

Maksud: Dari Abi Hurairah, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

Menziarahi kubur, dengannya dapat mengingati akhirat. (Hadis Riwayat Ibnu Majah, Kitab Ziarah Kubur, no. 1558. Ahmad, Musnad Ahmad, 3/179, no. 1173. Dinilai Shahih oleh al-Albani, Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 1569 dan Shahih al-Jami' ash-Shoghir, no. 7829)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِيهَا عِبْرَةً

Maksud: Dari Abi Sa'id al-Khudri, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya aku telah melarang kamu dari menziarahi kubur, tetapi sekarang, kamu sudah boleh berziarah kerana sesungguhnya di dalamnya terdapat 'ibrah (pelajaran). (Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, 22/466, no. 10901. al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 4/77. al-Hakim, al-Mustadrak, 3/414, no. 1335. Dan beliau menyatakannya Sahih di atas syarat Muslim. Dinilai Sahih oleh al-Albani, Shahih Targhib wa at-Tarhib, no. 3543)

زِيَارَةِ الْقُبُورِ ثُمَّ بَدَا لِي أَنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ فَزُورُوهَا وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

Maksud: Menziarahi kubur itu melembutkan hati, menitiskan air mata, dan mengingatkan kepada kehidupan akhirat. Dan janganlah kamu berkata-kata dengan perkataan yang batil/keji. (Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, 27/47, no. 13000. al-Hakim, al-Mustadrak, 3/421, no. 1342. Hadis daripada Anas B. Malik)

Sunnah Ziarah Kubur Adalah Umum Sama ada Kubur Kaum Muslimin Atau Orang Kafir:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ عِنْدَ قَبْرٍ وَهِيَ تَبْكِي فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي

Maksud: Dari Anas B. Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah berjalan melintasi seorang perempuan yang sedang berada di perkuburan dan sedang menangis. Maka beliau pun berkata kepadanya:

Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah... (Hadis Riwayat al-Bukhari, Bab Ziarah Kubur (Kitab al-Jana'iz), 4/476, no. 1174)

Syaikh al-Albani menukilkan:

وقال العيني في (العمدة) (3 / 76): وفيه جواز زيارة القبور مطلقا، سواء كان الزائر رجلا أو امرأة: وسواء كان المزور مسلما أو كافرا، لعدم الفصل في ذلك

Maksud: Dan telah berkata al-'Aini di dalam (kitab) Syarahnya iaitu al-'Umdah (3/76): Di dalam hadis tersebut memiliki pengertian yang membolehkan perbuatan menziarahi kubur secara mutlak, sama ada lelaki mahu pun perempuan, atau yang diziarahi itu Muslim atau pun kafir disebabkan tiadanya penjelasan berkenaan dengannya. (Rujuk: al-Albani, Ahkamul Janaz'iz, m/s. 185, Maktabah Syamilah. Edisi Terjemahan m/s. 417, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cet. 2 September 2006)

Imam an-Nawawi juga turut menjelaskan bahawa perbuatan menziarahi kubur adalah umum (dibolehkan secara mutlak) sama ada kubur orang Islam atau orang kafir:

قال النووي: وبالجواز قطع الجمهور، وقال صاحب الحاوي: لا تجوز زيارة قبر الكافر وهو غلط

Maksud: Berkata imam an-Nawawi: Secara pasti bahawa jumhur ulama membolehkan ziarah kubur. Penulis kitab al-Haawii (Abul Hasal al-Mawardi) berkata: "Tidak dibolehkan menziarahi kubur orang kafir". Dalam perkara ini, dia telah salah (gholath). (Rujuk: al-Albani, Ahkamul Janaz'iz, m/s. 185, Maktabah Syamilah. Edisi Terjemahan m/s. 417, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cet. 2 September 2006. Rujuk juga: Ibnu Hajar, Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhari, 3/150)

Juga terdapat hadis yang menjelaskan bolehnya menziarahi kubur orang yang matinya di dalam keadaan tidak memeluk Islam. Di mana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah menziarahi kubur ibunya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Maksud: Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah menziarahi kubur ibunya lalu beliau mengangis, maka orang-orang di sekelilingnya pun turut menangis. Beliau pun bersabda:

Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memberikan keampunan untuk ibuku, tetapi Dia tidak mengizinkanku. Aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia memberi izin kepadaku. Oleh kerana itu, ziarahlah kubur, kerana ia dapat mengingatkan kepada kematian. (Hadis Riwayat Muslim, Kitab al-Jana'iz, no. 1622)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

فيه جواز زيارة المشركين في الحياة وقبورهم بعد الوفاة لأنه اذا جازت زيارتهم بعد الوفاة ففي الحياة

“Hadis ini menunjukkan bolehnya menziarahi orang-orang musyrik yang masih hidup dan bolehnya menziarahi kuburan mereka setelah mereka meninggal. Kerana sekiranya menziarahi mereka ketika meninggal dibolehkan, sudah tentu menziarahi mereka di ketika masih hidup lebih boleh lagi.” (an-Nawawi, Syarah Shohih Muslim, 7/45)

Tujuan Menziarahi Kubur:

Pertama:

انتفاع الزائر بذكر الموت والموتى، وأن مآلهم إما إلى جنة وإما إلى نار وهو الغرض الاول من الزيارة

Maksud: Orang yang berziarah dapat mengambil manfaat dengan mengingati kematian orang-orang yang telah meninggal dunia dan bahawasanya tempat kembali mereka hanya Syurga atau Neraka. Demikianlah tujuan pertama menziarahi kubur. (Rujuk: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, m/s. 188, Maktabah Syamilah)

Di antara lain, daripada hadis-hadis di atas dapat kita fahami bahawa menziarahi kubur dapat:

1 - Mengingati akhirat (mati),

2 - di dalamnya terdapat 'ibrah (pelajaran), dan

3 – dapat melembutkan hati.

Kedua:

نفع الميت والاحسان إليه بالسلام عليه، والدعاء والاستغفار له، وهذا خاص بالمسلم

Maksud: Memberikan manfaat kepada si jenazah (si mati) sekaligus sebagai bentuk perbuatan baik kepadanya dengan memberi salam, mendoakannya, dan memohon keampunan baginya. Yang demikian itu khusus bagi Muslim sahaja. (Rujuk: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, m/s. 189, Maktabah Syamilah)

Sunnah Mendoakan Ahli Kubur (Apabila Menziarahi Kubur):

عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَدْعُو لَهُمْ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَدْعُوَ لَهُمْ

Maksud: Dari 'Aisyah (beliau berkata):

Bahawasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah pergi ke tanah perkuburan Baqi'. Kemudian, beliau mendoakan para penghuninya.

'Aisyah bertanya kepada beliau berkenaan perkara tersebut, maka beliau menjawab:

Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendoakan mereka. (Hadis Riwayat Ahmad, Musnad ahmad, 52/110, no. 24952. Sanadnya sahih berdasarkan syarat dua kitab sahih sebagaimanya dinyatakan oleh Syaikh al-Albani di dalam Ahkamul Jana'iz, m/s. 189)

Doa Ketika Menziarahi Kubur:

Dari sebuah hadis yang agak panjang:

كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

قَالَ: قُولِي:

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ

Maksud: ('Aisyah bertanya) Bagaimana harus aku katakan (doakan) kepada mereka (ahli kubur) wahai Rasulullah?

Beliau menjawab, katakanlah:

Semoga keselamatan dilimpahkan ke atas ahli kubur, dari kalangan orang Mukmin dan Muslim. Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang telah meninggal dunia terdahulu atau terkemudian. Sesungguhnya, insyaAllah kami akan menyusul bertemu kamu semua. (Hadis Riwayat Muslim, 5/102, Kitab al-Jana'iz, no. 1619)

Disunnahkan (atau dibolehkan) mengangkat tangan ketika mendoakan ahli kubur berdasarkan dari hadis yang sama:

فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ

Maksud: (Ketika di perkuburan Baqi') Beliau berdiri cukup lama dan kemudian mengangkat kedua tangannya tiga kali. Dan beliau pun kemudiannya terus pulang... (Hadis Riwayat Muslim, 5/102, Kitab al-Jana'iz, no. 1619)

Ketika berdoa tidak boleh menghadap ke arah kubur, tetapi hendaklah menghadap ke arah kiblat. Ini adalah kerana terdapat larangan bersolat dengan menghadap ke arah kubur. Dan terdapat pula hadis yang sahih menjelaskan bahawa doa itu adalah ibadah. (Untuk penjelasan lanjut, rujuk: al-Albani, Ahkamul Janai'z)

Disunnahkan Membuka Selipar/Kasut:

Adalah disunnahkan supaya membuka kasut/selipar ketika menziarahi kubur. Ini berdasarkan hadis berikut:

(بينما أماشي رسول الله (ص)...أتى على قبور المسلمين...فبينما هو يمشي إذ حانت منه نظرة، فإذا هو برجل يمشي بين القبور عليه نعلان، فقال: يا صاحب السبتيتين ألق سبتيتيك، فنظر، فلما عرف الرجل رسول الله (ص) خلع نعليه، فرمى بهما

Maksud: Ketika aku menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, di ketika melalui perkuburan kaum Muslimin... Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berjalan, tiba-tiba pandangannya tertumpu kepada satu arah. Ternyata beliau melihat seorang lelaki berjalan-jalan di antara kubur dengan mengenakan sepasang terompah, maka beliau pun bersabda:

Wahai orang yang memakai dua terompah, celaka kamu, lepaskanlah kedua terompahmu itu.

Maka orang tersebut pun memandang dan ketika orang itu mengetahui bahawa yang dipandang itu adalah Rasulullah, dia pun segera melepaskan kedua terompahnya lalu melemparkan keduanya. (Hadis Riwayat al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 4/80. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, 13/334, no. 3237. al-Hakim, al-Mustadrak, 3/407, no. 1328)

Berkenaan hadis ini, al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata:

والحديث يدل على كراهة المشي بين القبور بالنعال

Maksud: Dan hadis ini menunjukkan dimakruhkannya berjalan di antara kubur dengan memakai sandal (kasut/selipar/terompah). (Rujuk: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, m/s. 199, Maktabah Syamilah)

Manakala Syaikh al-Albani berkata:

والاقرب أن النهي من باب احترام الموتى، فهو كالنهي عن الجلوس على القبر

Maksud: Yang lebih dekat dengan kebenaran adalah bahawa larangan tersebut sebagai sebuah tindakan menghormati orang-orang yang telah meninggal dunia. Ia sama juga seperti larangan duduk-duduk di atas kuburan. (Rujuk: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, m/s. 200, Maktabah Syamilah)

Menziarahi Kubur Di Waktu Malam:

Terdapat juga contoh dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bahawa beliau menziarahi kubur di waktu malam.

Ini adalah berdasarkan sebuah hadis yang agak panjang, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar menziarahi perkuburan Baqi' di waktu malam dan mendoakan untuk penghuninya. (Rujuk: Hadis Riwayat Muslim, 5/102, Kitab al-Jana'iz, no. 1619)
Larangan Berhari Raya Di Perkuburan (Tidak mengadakan apa-apa majlis di perkuburan)

Hadis daripada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
Maksud: Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu seperti perkuburan dan jangan jadikan kuburku sebagai tempat perayaan. Berselawatlah ke atasku kerana sesungguhnya selawat kamu akan sampai kepadaku di mana jua kamu berada. (Hadis Riwayat Abu Daud, Bab: Ziarah al-Kubur, 5/418, no. 1746. Isnadnya sahih dan dihasankan oleh Ibnul Qayyim. Disahihkan oleh al-Albani - Rujuk: al-Albani, Shohih Sunan Abi Daud, 6/282, no. 1780. Diriwayatkan juga oleh Ahmad, Musnad Ahmad, 14/403, no. 8804 dan dinyatakan Isnadnya hasan oleh Syaikh Syu'aib al-Arnauth)

Tidak Dibenarkan Duduk Di Atas Kubur Serta Bersandar Padanya

لأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ
Maksud: Sesungguhnya jika seseorang daripada kamu duduk di atas bara api lalu ia membakar pakaiannya sehingga mengenai kulitnya, maka ia adalah lebih baik baginya dari dia duduk di atas kubur. (Hadis Riwayat Muslim, Shohih Muslim, Bab: Larangan Duduk Di Atas Kubur dan Solat Di Atasnya, 5/93, no. 1612)

Tetapi dibenarkan (dibolehkan) duduk di tepi/sisi kubur berdasarkan hadis berikut (daripada Anas radhiyallahu 'anhu):
شَهِدْنَا بِنْتًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ

وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ قَالَ: فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ
Maksud: Kami melihat ketika kematian puteri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam (iaitu Ummi Kaltsum radhiyallahu ‘anha). (Anas menyambung): “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam duduk di atas kubur, maka aku melihat kedua-dua matanya menitiskan air mata.”

al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani rahimahullah menjelaskan bahawa yang dimaksudkan dengan duduk di atas kubur dari hadis di atas adalah duduk di sisi kubur di ketika urusan pengebumian berlangsung. (Rujuk: Ibnu Hajar, Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhari, 1/269)
‘Amr bin Hazm al-Anshari radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئًا عَلَى قَبْرٍ فَقَالَ: لاَ تُؤْذِ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ

Maksud: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melihat aku bersandar kepada suatu kubur lalu beliau berkata: “Janganlah menyakiti ahli kubur ini.” (Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, 39/476, no. 24009. Isnadnya Sahih sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Syu'aib al-Arnauth)
Beberapa Larangan Yang Lain Berkaitan Adab di Kubur
Daripada Jabir radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُجَصَّصَ الْقُبُورُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا وَأَنْ تُوطَأَ
Maksud: Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam melarang dari mengkapur kubur (menyimen), menulis di atasnya (melainkan sekiranya sekadar tanda - pent.), membina sebarang binaan di atasnya dan memijaknya. (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, 4/206, no. 972. Beliau menyatakan: Hadis ini hasan sahih)
Dibolehkan membuat tanda sekadar pengenalan, sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam meletakkan batu di kubur 'Umar B. Mazh'un radhiyallahu 'anhu dengan katanya:
أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي
Maksud: Aku memberi tanda dengan batu ini untuk kubur saudaraku dan di sinilah akan dikebumikan sesiapa yang meninggal dunia dari kalangan ahli keluargaku. (Hadis Riwayat Abi Daud, 9/1, no. 2791. Dihasankan oleh al-Albani, Shohih Sunan Abi Daud, 7/206, no. 3206)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

لأَنْ أَمْشِيَ عَلَى جَمْرَةٍ أَوْ سَيْفٍ أَوْ أَخْصِفَ نَعْلِي بِرِجْلِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَمْشِيَ عَلَى قَبْرِ مُسْلِمٍ وَمَا أُبَالِي أَوَسْطَ الْقُبُورِ قَضَيْتُ حَاجَتِي أَوْ وَسْطَ السُّوقِ
Maksud: Sesungguhnya, berjalan di atas bara api atau pedang atau aku ikat kasutku dengan kakiku lebih aku sukai dari berjalan di atas kubur orang Islam. Tidak ada beza keburukannya bagiku, sama ada membuang hajat di tengah perkuburan atau di tengah pasar. (Hadis Riwayat Ibnu Majah, Bab: Larangan Berjalan-jalan di Atas Kubur dan Duduk Di Atasnya, 5/39, no. 1556. Disahihkan oleh al-Albani, Shohih Sunan Ibnu Majah, 1/261, no. 1273)

Kesimpulan/Ringkasan:

1 – Disunnahkan menziarahi kubur bagi umat Islam sama ada yang lelaki atau wanita.

2 – Ziarah kubur tidak terhad kepada kubur-kubur yang tertentu dan khusus. Tetapi ia adalah bersifat umum kepada mana-mana kubur umat Islam (yang terdekat). Juga tidak dikhususkan kepada kubur ahli keluarga semata-mata.

3 – Dibolehkan menziarahi kubur orang kafir.

4 – Disunnahkan memberi salam ketika sampai ke kuburan, kemudian mendoakan kebaikan dan keampunan bagi si mati. Ini adalah khusus jika menziarahi perkuburan umat Islam. Serta dilarang mengucapkan kata-kata yang keji.

5 – Menziarahi kubur memiliki beberapa faedah seperti dapat mengingati kematian dan melembutkan hati.

Beberapa Contoh Tokok Tambah dan Salah Faham Masyarakat Terhadap Sunnah Menziarahi Kubur:

1 – Menziarahi perkuburan tertentu sahaja. Seperti mengkhususkan kepada kubur ahli keluarga tertentu.

2 – Berpendapat bahawa haram hukumnya menziarahi kubur orang kafir.

3 – Membacakan al-Qur'an di perkuburan. Sedangkan di kubur bukanlah tempat untuk membaca al-Qur'an.

4 – Mensedekahkan/menghadiahkan bacaan al-Qur'an atau Surah al-Fatihah kepada si mati di setiap kali menziarahi kubur.

5 – Melakukan safar (perjalanan jauh) kerana untuk menziarahi kubur-kubur tertentu. Sedangkan perbuatan tersebut adalah termasuk larangan.

6 – Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya.

7 – Bertahlil. Sedangkan amalan tahlilan itu adalah bid'ah, maka apatah lagi jika ia dilaksanakan di perkuburan. Maka, yang batil akan menjadi lebih batil lagi.

9 – Berdoa kepada si mati (memohon hajat kepada si mati/penghuni kubur). Seperti memintah berkat atau meminta nombor ramalan.

10 – Mengirimkan salam kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam melalui orang yang menziarahi kubur Rasulullah.

11 – Membina binaan tertentu di atas perkuburan. Seperti tembok atau malah ada yang sehingga membina seakan-akan rumah.

12 – Menjiruskan air mawar ke atas kubur.

13 – Meratap dan menangis teresak-esak di atas kubur.

Wallahu a'lam...

Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Qur’an Kepada Si Mati Menurut as-Sunnah & Ulama Bermazhab Syafi'e

Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Qur’an Kepada Si Mati Menurut as-Sunnah & Ulama Bermazhab Syafi'e
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/

Pendapat:

1 - Amalan mensedekahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada si mati adalah tidak tsabit dari sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

2 – Pahala bacaan al-Qur’an yang disedekahkan kepada orang yang telah mati adalah tidak sampai.

Penjelasan:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (٣٨) وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

Terjemahan: Bahawasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahawasanya seorang manusia tidak mendapat selain apa yang telah diusahakannya. (Surah an-Najm, 53: 38-39)

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ (٦٩) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا

Terjemahan: Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup. (Surah Yaasiin, 36: 69-70)

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Terjemahan: Setiap diri bertanggungjawab ke atas apa yang telah dilakukannya. (Surah al-Muddatsir, 74: 38)

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Terjemahan: Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Surah al-Baqarah, 2: 286)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ

Terjemahan: Sesiapa yang mengerjakan amal yang soleh, maka amal tersebut adalah untuk dirinya sendiri dan sesiapa yang melakukan kejahatan (dosa), maka itu adalah atas dirinya sendiri dan tidaklah Tuhanmu menganiaya hambanya. (Surah Fushilat, 41: 46)

وَمَا تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Terjemahan: Kamu tidak akan diberi balasan melainkan apa yang telah kamu usahakan. (Surah as-Saffat, 37: 39)

مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلأنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Terjemahan: Sesiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya dan sesiapa yang beramal soleh, maka amal tersebut adalah untuk diri mereka sendiri. (Surah ar-Ruum, 30: 44)

فَالْيَوْمَ لا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلا تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Terjemahan: Maka pada hari kiamat tiada seorang pun yang dianiaya dan tidak dibalas kepada kamu melainkan apa yang kamu telah kerjakan. (Surah Yasin, 36: 54)

Penjelasan Para Ulama Bermazhab Syafi'e:

Berkenaan ayat 38-39 surah an-Najm, di antaranya al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى أي: كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء

Terjemahan: “Firman Allah (maksudnya: Dan sesungguhnya seseorang manusia itu tidak mendapat (pahala) selain daripada apa yang telah mereka usahakannya). Di sini bermaksud:

Iaitu sebagaimana seseorang itu tidak akan memikul dosa orang lain, maka begitu jugalah bahawa seseorang itu tidak akan mendapat ganjaran (pahala) melainkan dari apa yang telah dia usahakan untuk dirinya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini, Imam asy-Syafi’e bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum bahawa bacaan al-Qur’an tidak akan sampai hasil sedekah pahalanya kepada orang yang telah mati. Kerana bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha dia sendiri. Atas sebab itulah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak pernah mensyari'atkan kepada umatnya (supaya menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang mati) dan tidak juga pernah menyukai atau memberikan petunjuk kepada mereka sama ada dengan nash (dalil yang jelas/terang) dan tidak juga dengan isyarat serta tidak dinukilkan dari walau seorang pun sahabat (bahawa mereka pernah mengirimkan pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang telah mati). Jika sekiranya amalan tersebut baik, sudah tentu para sahabat telah mendahului kita di dalam mengamalkannya. Dan di dalam permasalahan ibadah, ianya hanya terbatas (terhenti) berdasarkan dalil dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas (analogi) atau pendapat-pendapat (pemikiran) tertentu.”

Lihat: al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anil Azhim, 7/465. Juga sebagaimana yang dinukilkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Ahkamul Jana'iz, 1/174.

Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan berkenaan perkataan Ibnu Katsir di atas (katanya):

وما ذكره ابن كثير عن الشافعي رحمه الله تعالى هو قول أكثر العلماء وجماعة من، الحنفية كما نقله الزبيدي في (شرح الاحياء) 10 / 369

Terjemahan: Apa yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dari asy-Syafi'e rahimahullah tersebut adalah merupakan pendapat majoriti ulama dan sekelompok pengikut mazhab Hanafi, sebagaimana yang dinukilkan oleh az-Zubaidi di dalam Kitab Syarah al-Ahyaa', 9/369. (Lihat: Syaikh al-Albani, Ahkamul Jana'iz, 1/174)

Perkataan Imam asy-Syafi'e rahimahullah:

فأعلم رسول الله مثل ما أعلم الله من أن جناية كل امرئ عليه كما عمله له لا لغيره ولا عليه

Terjemahan: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah memberitahu sebagaimana yang diberitahu oleh Allah, bahawasanya dosa setiap orang adalah untuk kecelakaan dirinya sendiri sebagaimana amalannya yang juga buat dirinya sendiri dan bukan untuk kecelakaan orang lain.

Lihat: Ikhtilaful Hadis, 1/538, (باب استقبال القبلة للغائط والبول), Maktabah Syamilah.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت

Terjemahan: “Ada pun berkenaan bacaan al-Qur’an maka yang masyhur di kalangan mazhab asy-Syafi'e bahawa tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada orang yang telah mati dan sebahagian sahabat berpendapat sampai pahala bacaan kepada si Mati.”

Kemudian beliau menjelaskan lagi:

وكل هذه المذاهب ضعيفة ودليلهم القياس على الدعاء والصدقة والحج فانها تصل بالاجماع ودليل الشافعى وموافقيه قول الله تعالى وأن ليس للانسان الا ما سعى وقول النبى صلى الله عليه و سلم اذا مات بن آدم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

Terjemahan: “Dan semua mazhab-mazhab tersebut (yang membolehkan menghadiahkan pahala kepada orang mati - Penulis) adalah jelas lemahnya, dan dalil yang mereka gunakan untuk membolehkan (amalan sedekah pahala kepada si mati) hanyalah qias yang diqiaskan dengan doa, sedekah dan haji. Maka sesungguhnya ianya tidak sampai secara ijmak (kesepakatan ulama). Dan dalil asy-Syafi’e serta mereka yang mengikutinya adalah (ayat al-Qur’an): (Sesungguhnya tidaklah ada yang diperolehi oleh setiap manusia, kecuali apa yang telah diusahakan). “Apabila mati anak Adam, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (iaitu): 1 - Sedekah jariah, 2 - ilmu yang bermanfaat dan 3 - anak yang soleh yang mendoakannya”.”

Lihat: Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, 1/90.

Di dalam kitab yang sama, beliau meletakkan sebuab bab bernama:

باب وصول ثواب الصدقة عن الميت إليه

Terjemahan: Bab Sampaikah Kepada Mayat (pahala) Sedekah Yang Diberikan Atas Namanya.

Kemudian beliau menjelaskan:

والمشهور في مذهبنا أن قراءة القرآن لا يصله

Terjemahan: Dan yang masyhur di dalam mazhab kami (Mazhab asy-Syafi'e) adalah pahala bacaan al-Qur'an itu tidak sampai pahalanya (kepada si mati).

Lihat: Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, 7/89-90.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata:

الْمَيِّتُ لَا يُقْرَأُ عليه مَبْنِيٌّ على ما أَطْلَقَهُ الْمُتَقَدِّمُونَ من أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ لِأَنَّ ثَوَابَهَا لِلْقَارِئِ وَالثَّوَابُ الْمُتَرَتِّبُ على عَمَلٍ لَا يُنْقَلُ عن عَامِلِ ذلك الْعَمَلِ قال تَعَالَى وَأَنْ ليس لِلْإِنْسَانِ إلَّا ما سَعَى وَوُصُولُ الدُّعَاءِ وَالصَّدَقَةِ وَرَدَ بِهِمَا النَّصُّ فَلَا يُقَاسُ عَلَيْهِمَا إذْ لَا مَجَالَ لِلْقِيَاسِ في ذلك فَاتَّجَهَ قَوْلُهُمْ أَنَّ الْمَيِّتَ

Terjemahan: “Mayat tidak boleh dibacakan al-Qur’an ke atasnya sebagaimana keterangan yang ditetapkan oleh orang-orang terdahulu, bahawa bacaan al-Qur’an pahalanya tidak sampai kepada si Mati, lantaran pahala bacaan hanya untuk si Pembaca. Pahala amalan pula tidak boleh dipindah-pindahkan dari si pembuat berdasarkan firman Allah Ta’ala: Dan manusia tidak memperolehi pahala kecuali dari amalan yang mereka telah usahakannya sendiri.”

Lihat: Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, 2/26.

Al-Hafiz Ibnu Katsir di dalam Tafsirnya sekali lagi:

كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه

Terjemahan: Sebagaimana tidak dipertanggungjawabkan dosa orang lain, begitulah juga seseorang itu tidak mendapat ganjaran melainkan apa yang telah dia kerjakan (usahakan) sendiri.

Lihat: al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'anil Adzim, 7/465.

Juga:

أن النفوس إنما تجازى بأعمالها إن خيرًا فخير، وإن شرًا فشر، وأنه لا يحمل من خطيئة أحد على أحد

Terjemahan: Sesungguhnya manusia itu hanya menerima balasan berdasarkan amalnya, jika baik, maka baiklah balasannya dan jika buruk, maka buruklah balasannya dan bahawasanya seseorang itu tidaklah menanggung dosa bagi seseorang yang lain.

Lihat: al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'anil Adzim,3/384.

Pendapat Para Ulama Lainnya:

Imam ath-Thabari rahimahullah:

أنه لا يُجَازي عامل إلا بعمله، خيرا كان ذلك أو شرّا

Terjemahan: Bahawasanya seseorang itu tidak menerima balasan amal, melainkan dari apa yang telah dia usahakan, sama ada amalnya yang baik atau yang buruk. (Lihat: Muhammad B. Jarir ath-Thabari, al-Jami'ul Bayan fi Ta'wilul Qur'an, 22/546)

Juga:

لا يؤاخذ بعقوبة ذنب غير عامله، ولا يثاب على صالح عمله عامل غيره

Terjemahan: Tidaklah disiksa seseorang itu dengan sesuatu siksaan sekiranya dia tidak mengerjakan dosa tersebut, dan tidaklah dia diberi ganjaran di atas amal soleh yang mana dia tidak mengerjakannya. (Lihat: Muhammad B. Jarir ath-Thabari, al-Jami'ul Bayan fi Ta'wilul Qur'an, 22/547)

Di dalam Tafsir Jalalain:

فَلَيْسَ لَهُ مِنْ سَعْي غَيْره الْخَيْر شَيْء

Terjemahan: Maka seseorang itu tidaklah mendapat apa-apa pun (pahala) dari usaha orang lain. (Tafsir al-Jalalain, 10/334)

Imam asy-Syaukani rahimahullah:

ليس له إلاّ أجر سعيه ، وجزاء عمله ، ولا ينفع أحداً عمل أحد

Terjemahan: Seseorang tidak akan mendapat melainkan balasan atas usahanya dan ganjaran amalan (yang dia sendiri amalkan), dia tidak memberi manfaat (pahalanya) kepada orang lain. (Lihat: Muhammad B. 'Ali asy-Syaukani, Fathul Qodir al-Jami' Baina fani ar-Riwayah wa ad-Dirayah min 'Ulumut Tafsir, 7/78)

Syaikh 'Abdul 'Aziz B. Baz Rahimahullah:

ولكن الصواب هو القول الأول للحديث المذكور وما جاء في معناه، ولو كان إهداء التلاوة مشروعا لفعله السلف الصالح. والعبادة لا يجوز فيها القياس؛ لأنها توقيفية لا تثبت إلا بالنص من كلام الله عز وجل أو من سنة رسوله للحديث السابق وما جاء في معناه.

Terjemahan: Adapun yang tepat adalah pandangan pertama kerana berdasarkan hadis yang disebutkan dan apa yang jelas adalah menunjukkan makna yang sama. Sekiranya menghadiahkan pahala bacaan (al-Qur'an) itu disyariatkan, sudah tentu ia dilakukan (diamalkan) oleh para salafussoleh. Sedangkan dalam perkara ibadat kita tidak wajar melakukan qiyas padanya, ini adalah kerana ia bersifat tawfiqiyyah (terhenti pada dalil). Tidak tsabit melainkan dengan nash dari kalamullah (perkataan Allah) atau sunnah rasul sebagaimana hadis yang dijelaskan pada awal tadi. (Lihat: Web Rasmi Samahatusy Syaikh 'Abdul 'Aziz B. Baz: www.binbaz.org.sa/mat/1831)

Perkataan Syaikh Ibnu Baaz di atas berkenaan sesuatu ibadah itu adalah tawqifiyah (tidak dibuat melainkan dengan adanya dalil), sebenarnya merupakan kaedah asas yang telah digunakan dan difahami oleh para ulama dari era awal lagi.

Ini dapat kita lihat antaranya dari al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqolani rahimahullah, beliau menjelaskan:

التقرير فى العبادة إنما يؤخذ عن توقيف

Terjemahan: Perlaksanaan di dalam ibadat adalah dengan mengikuti/mengambil dari apa yang telah ditetapkan (melalui dalil). (Lihat: al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqolani, Kitab Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhari, 2/80)

Berdasarkan kesepakatan ini, maka tidaklah boleh untuk kita mereka-cipta suatu bentuk amal-amal ibadah yang lain selain dari apa yang telah terdapat di dalam Sunnah. Tidaklah wajar untuk kita mendahului perkataan Allah dan sunnah Rasul-Nya di dalam menetapkan sesuatu urusan ibadah di dalam agama.

Seorang ulama Mesir, Syaikh Muhammad B. Ahmad Abdus Salam melalui tulisannya telah membuat kesimpulan setelah mengulas secara panjang lebar berkenaan perkara ini, beliau menyatakan:

Dilarang membaca ayat-ayat al-Qur'an kepada ahli kubur. Sebuah khabar (atsar) yang diriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu yang menceritakan bahawa beliau (Ibnu 'Umar) pernah berwasiat, sekiranya beliau telah meninggal dunia, supaya dibacakan Surah al-Fatihah dan beberapa ayat terakhir dari Surah al-Baqarah di atas kuburnya. (Bahawasanya) Atsar tersebut darjatnya adalah Syazd (ganjil), sanadnya tidak sahih. Dan tidak seorang pun di antara para sahabat yang mengakuinya.

Begitu juga dengan riwayat-riwayat tentang membaca Surah al-Fatihah, surah al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas, at-Takatsur, al-Kafiruun, dan menghadiahkannya kepada ahli kubur adalah palsu. Ini adalah kerana ianya bertentangan dengan perkataan-perkataan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan perbuatan para sahabatnya. (Muhammad B. Ahmad Abdus Salam, Hukumul Qiraati lil Amwati Hal Yashilu Tsawabuha Ilaihim (Edisi Terjemahan: Hukum Membaca al-Qur'an Untuk Orang Mati Sampaikah Pahalanya Kepada Mereka?) Tahqiq Syaikh Mahmud Mahdi al-Istabuli, m/s. 43, Media Da'wah)

Selain itu, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah turut menjelaskan:

وقد قال شيخ الاسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى في (الاختيارات العلمية) (ص 54): ولم يكن من عادة السلف إذا صلوا تطوعا أو صاموا تطوعا أو حجوا تطوعا، أو قروؤا القرآن يهدون ثواب ذلك إلى أموات المسلمين، فلا ينبغي العدول عن طريق السلف فإنه أفضل وأكمل

Terjemahan: Bukan merupakan kebiasaan para ulama salaf (ulama generasi awal/para sahabat), iaitu jika mereka mengerjakan puasa, solat, atau haji tathawwu', atau membaca al-Qur'an, pahalanya dihadiahkan (disedekahkan) kepada kaum Muslimin yang telah meninggal dunia. Kerana itu, tidak sewajarnya untuk menyimpang dari jalan ulama Salaf kerana mereka lebih baik dan sempurna. (Dinukil dari: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, 1/174)

Selain pendapat tersebut, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah juga memiliki pendapat lain yang berlawanan dengan pendapatnya yang disebutkan di atas dan malah berlawanan dengan pegangan para salaf. Beliau menyatakan bahawa orang yang meninggal dunia itu dapat mengambil manfaat dari semua ibadah yang dilakukan oleh orang lain yang masih hidup. Namun, pendapat beliau ini hanya semata-mata berpandukan kepada qiyas (analogi) dan tidak berpijak dengan dalil yang jelas.

Pendapat beliau telah pun dikritik (diberi bantahan) secara ilmiyah oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha di dalam Kitabnya, Tafsir al-Manar (8/254-270). (Rujuk: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, 1/174)

Dan perlu kita fahami bahawa, setiap pendapat dan perkataan manusia itu boleh diterima atau pun ditolak dengan dinilai berpandukan kepada dalil-dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Kecuali perkataan manusia bergelar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, maka hendaklah kita menerimanya.

Imam Abu Hanifah rahimahullah berpesan:

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه

Terjemahan: Tidak halal bagi seseorang untuk mengikuti perkataan kami sekiranya dia tidak mengetahui dari mana kami mengambil sumbernya. (Lihat: Syaikh Soleh al-Munajjid, Fatawa Islam Su'al wa Jawab, 1/3. Syaikh al-Albani, Sifat Solat Nabi, 1/46)

Imam Malik B. Anas rahimahullah:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

( ابن عبد البر في الجامع 2 / 32 )

Terjemahan: Aku hanyalah seorang manusia, adakalanya salah dan adakalanya benar. Oleh sebab itu, perhatikanlah pendapatku. Apabila ianya bertepatan dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, maka ambillah, dan apabila ianya tidak bertepatan dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, tinggalkanlah ia. (Lihat: Ibnu 'Abdil Barr, al-Jami', 2/32. Dinukil dari: al-Albani, Sifat Solat Nabi, 1/48)

Imam asy-Syafi'e rahimahullah:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت

Terjemahan: Apabila kamu menemui sesuatu di dalam kitabku yang berlainan dengan hadis Rasulullah, peganglah hadis Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu. (Lihat: Imam an-Nawawi, al-Majmu' Syarah al-Muhazzab, 1/63)

Apa Yang Bermanfaat Untuk Orang Yang Telah Meninggal Dunia?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Terjemahan: Dari Abi Hurairah (radhiyallahu 'anhu) Bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda: Apabila manusia itu telah meninggal dunia, maka terputuslah amalan-amalannya melainkan tiga perkara, (iaitu) 1 – Anak yang soleh yang mendoakannya, 2 – Sedekah jariyah yang pernah dilakukannya, atau 3 – Ilmunya yang dimanfaatkan. (Hadis Riwayat Muslim, Shohih Muslim, Kitab al-Wasiyah, 8/405, no. 3084. at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Ahkam, 5/243, no. 1297)

Si mati juga mendapat ganjaran (pahala) dari hasil amal soleh yang dikerjakan oleh anak-anaknya. Ini adalah disebabkan kerana anak-anak itu termasuk ke dalam kategori usaha dan hasil kerja si mati (kedua ibu bapa).

Ini adalah berdasarkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

Terjemahan: Dan bahawasanya seseorang manusia itu tidak mendapat (pahala) melainkan dari apa yang telah diusahakannya. (Surah an-Najm, 53: 39)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

إن أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وإن ولده من كسبه

Terjemahan: Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang itu adalah makanan yang diperolehi (terhasil) dari usahanya sendiri. Sesungguhnya anak itu termasuk dari hasil usahanya. (Hadis dari 'Aisyah. Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad Tahqiq Syaikh Shu'aib al-Arnauth, 40/34, no. 24032. Beliau menjelaskan, hadis ini hasan lighairihi. Diriwayatkan juga oleh al-Hakim, al-Mustadrak, 2/53, no. 2295 dengan dinyatakan oleh adz-Dzahabi sebagai sahih. Syaikh al-Albani di dalam Ahkamul Jana'iz menjelaskan bahawa hadis ini tidak mencapai darjat sahih. Namun hadis ini memiliki penguat. Rujuk: Ahkamul Jana'iz, 1/171)

Selain itu, ia turut diperkuatkan dengan beberapa hadis yang lain yang sahih.

Maka, apa sahaja amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh anak-anak si mati, maka si mati akan beroleh manfaat (ganjaran pahala) dari perbuatan anak-anaknya tersebut.

Amalan Agama/Ibadah Tidak Boleh Direka-reka

Hadis Nabi:

وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Terjemahan: Jauhilah olehmu perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam agama) kerana sesungguhnya setiap bid'ah (perkara yang baru yang diada-adakan di dalam agama) adalah sesat. (Hadis Riwayat Ibnu Majah, Sunan Ibni Majah, 1/49, no. 42. Disahihkan oleh al-Albani, Shohih Sunan Ibni Majah, 1/13, no. 42. Hadis Nabi dari 'Irbadh B. Sariyah)

Perlu kita fahami bahawa setiap bentuk amal ibadah yang hendak dilaksanakan (ditegakkan), hendaklah terlebih dahulu memiliki rujukan dan sandarannya dari dalil-dalil yang sahih lagi jelas. Jika sesuatu yang dianggap ibadah itu tidak memiliki sandarannya dari dalil yang jelas, maka ia boleh dipertikaikan dari menjadi sebahagian dari juzuk agama (ibadah). Malah, ia mungkin menjadi atau menjurus kepada bid'ah, iaitu suatu bentuk amalan yang dilaksanakan bagi tujuan meraih keredhaan Allah, namun ia tidak bertunjangkan kepada dalil yang jelas.

Disunnahkan Mendoakan Orang Yang Telah Meninggal Dunia

Mendoakan si Mati adalah sunnah hukumnya bersandarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَالَّذِينَ جاءُ وْا مِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُولونَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلاِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَ بِالاِيْمَانِ

Terjemahan: Dan orang-orang yang datang setelah mereka itu akan berkata (berdoa): Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman (terlebih dahulu) sebelum kami. (Surah al-Hasyr, 59: 10)

رَبَّنَا اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ

Terjemahan: Wahai Tuhan kami! Berilah keampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab. (Surah Ibrahim, 14: 41)

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ

Terjemahan: Dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu dan bagi orang-orang yang beriman. (Surah Muhammad, 47: 19)

Hadis Nabi:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Terjemahan: Doa seorang Muslim untuk saudaranya dari kejauhan akan dikabulkan. Di atas kepalanya terdapat malaikat yang bertanggungjawab. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang bertugas akan mengucapkan: Ameen dan bagimu yang seumapamnya. (Hadis Riwayat Imam Muslim, Shohih Muslim, 13/271, Kitab Zikir dan Doa, no. 4914. Dari hadis Abu Darda' rahiyallahu 'anhu)

Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan:

إن صلاة الجنازة جلها شاهد لذلك، لان غالبها دعاء للميت
واستغفار له، كما تقدم بيانه

Terjemahan: Sesungguhnya, Solat jenazah itu menjadi bukti akan perkara tersebut (mendoakan si mati) di mana sebahagian besar darinya adalah doa untuk jenazah sekaligus permohonan ampun baginya. (Lihat: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, 1/169)

Dibolehkah Bagi Wali/waris Untuk Membayar Hutang Puasa Si Mati

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Terjemahan: Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahawasnaya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Sesiapa yang meninggal dunia namun dia masih memiliki hutang puasa, maka walinya yang akan membayarnya. (Hadis Riwayat al-Bukhari, Shohih al-Bukhari, 7/51, Kitab ash-Shaum (Puasa), no. 1816)

Puasa yang dimaksudkan di dalam hadis tersebut adalah merujuk kepada puasa nadzar yang tidak sempat ditunaikan. Ada pun puasa-puasa yang selainnya, maka ia tidak perlu diganti (dibayarkan).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اسْتَفْتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ فَقَالَ اقْضِهِ عَنْهَا

Terjemahan: Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu (beliau berkata): Bahawasanya Sa'ad B. 'Ubadah radhiyallahu 'anhu pernah meminta pandangan (penjelasan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam:

Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia namun beliau masih memiliki hutang puasa nadzar?

Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Bayarlah untuknya. (Hadis Riwayat al-Bukhari, Shohih al-Bukhari, 9/306, Kitab al-Washoya, no. 2555)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata:

وهذه الاحاديث صريحة الدلالة في مشروعية صيام الولي عن الميت صوم النذر، إلا أن الحديث الاول يدل بإطلاقه على شئ زائد على ذلك وهو أنه يصوم عنه صوم الفرض أيضا. وقد قال به الشافعية، وهو مذهب ابن حزم (7 / 2، 8) وغيرهم. وذهب إلى الأول الحنابلة، بل هو نص الامام أحمد، فقال أبو داود في (المسائل) (96): (سمعت أحمد بن حنبل قال: لا يصام عن الميت إلا في النذر). وحمل أتباعه الحديث الاول على صوم النذر، بدليل ما روت عمرة: أن أمها ماتت وعليها من رمضان فقالت لعائشة: أقضيه عنها؟ قالت: لا بل تصدقي عنها مكان كل يوم نصف صاع على كل مسكين.

Terjemahan: Hadis-hadis tersebut secara jelas menunjukkan disyari'atkan pembayaran hutang puasa nadzar oleh wali bagi orang yang meninggal dunia. Hanya saja, hadis yang pertama dengan kemutlakkannya menunjukkan lebih dari itu, iaitu seolah-olah merujuk kepada puasa wajib yang lainnya yang menjadi hutang bagi si mati. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh mazhab asy-Syafi'i, mazhab Ibnu Hazm, dan yang selainnya.

Dalam pada itu, para pengikut mazhab Hanbali pula lebih cenderung kepada pendapat yang pertama, bahkan ia menjadi nash Imam Ahmad, sebagaimana di dalam al-Masaa'il-nya. Abu Daud berkata: Tidak ada kewajiban membayar hutang puasa bagi seorang jenazah melainkan puasa nadzar.

Para pengikutnya menyatakan bahawa hadis tersebut merujuk kepada puasa nadzar, dengan dalil apa yang diriwayatkan oleh 'amrah bahawa ibunya telah meninggal dunia sedang dia masih berhutang puasa Ramadhan. Kemudian, dia bertanya kepada 'Aisyah: "Adakah aku perlu membayarnya?" 'Aisyah menjawab: "Tidak, tetapi bersedekahlah untuknya sebagai ganti puasa setiap harinya dengan setengah sha' bagi seorang orang miskin. (Lihat: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, 1/170)

Beliau menjelaskannya lagi:

وهذا قول ابن عباس وأصحابه، وهو الصحيح، لان فرض الصيام جار مجرى الصلاة، فكما لا يصلي أحد عن أحد، ولا يسلم أحد عن أحد فكذلك الصيام، وأما النذر فهو التزام في الذمة بمنزلة الدين، فيقبل قضاء الولي له كما يقضي دينه، وهذا محض الفقه

Terjemahan: Dan yang terakhir adalah perkataan Ibnu 'Abbas dan para sahabatnya dan itulah yang sahih kerana kewajiban puasa itu berlaku seperti solat. Maksudnya, sebagaimana seseorang tidak boleh mengerjakan solat untuk orang lain, maka demkianlah juga dengan puasa wajib. Ada pun puasa nadzar, maka ia wajib dipenuhi kerana dalam soal penangguhan itu sendiri ia berkedudukan sama seperti hutang sehingga dibolehkan pembarayan qadha' puasa nadzar oleh wali si mati, sebagaimana dia wajib juga melubaskan hutang-hutangnya. (Lihat: al-Albani, Ahkamul Jana'iz, 1/171)

Kesimpulannya:

Maka, dengan ini jelaslah bahawa amalan mensedekahkah (atau menghadiahkan) pahala bacaan al-Qur'an bukanlah dari bentuk-bentuk amalan yang diamalkan oleh para sahabat (serta para salaf) dan juga tidak memiliki petunjuk dari al-Qur'an mahu pun as-Sunnah. Ini adalah sebagaimana penjelasan yang dibawakan di atas dari para ulama bermazhab Syafi'e khususnya, dan juga yang selainnya secara umum.

Perlu lebih ditekankan bahawa apa yang telah mendarah daging di dalam masyarakat umat Islam hari ini adalah berleluasanya bentuk-bentuk amalan (atau ritual-ritual tertentu) bertujuan mengirim (atau mensedekahkan) pahala bacaan-bacaan al-Qur'an kepada orang-orang yang telah mati sebenarnya langsung tidak berpijak kepada sumber agama yang benar. Contoh amalan-amalan tersebut adalah seperti amalan bertahlilan, beryasinan, dan membacakan al-Fatihah untuk sesiapa sahaja dari umat Islam yang meninggal dunia.

Wallahu a'lam...

dipetik dari www.fiqh-sunnah.blogspot.com